Warnet gadisnet

Warnet gadisnet
loading...

Cerpen Tahun 60 an

Ciri-ciri Angkatan 66  
  • Mulai dikenal gaya epik (bercerita) pada puisi (muncul puisi-puisi balada)  
  • Puisinya menggambarkan kemuraman (batin) hidup yang menderita 
  • Prosanya menggambarkan masalah kemasyarakatan, misalnya tentang perekonomian yang buruk, pengangguran, dan kemiskinan 
  • Cerita dengan latar perang dalam prosa mulai berkurang, dan pertentangan dalam politik pemerintahan lebih banyak mengemuka 
  • Banyak terdapat penggunaan gaya retorik dan slogan dalam puisi 
  • Muncul puisi mantra dan prosa surealisme (absurd) pada awal tahun 1970-an yang banyak berisi tentang kritik sosial dan kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah
Angkatan 60-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer
  • Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
  • Hati jang Damai (1960)
Mochtar Lubis
  • Tanah Gersang (1964)
  • Si Djamal (1964)
Ajip Rosidi
  • Pertemuan Kembali (1961)
Ali Akbar Navis
  • Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
  • Hujan Panas (1964)
  • Kemarau (1967)

“Kasih Sayang Mengubah Hati”                   
Judul Buku          : Pertemuan Dua Hati
Pengarang           : Nh. Dini
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 1986
Jumlah Halaman : 87 Halaman

Bu suci adalah seorang guru di sebuah desa di Purwodadi. Ia adalah seorang guru yang bijak serta sangat mencintai keluarganya. Namun, karena pekerjaan suaminya, bu Suci dan keluarganya terpaksa pindah ke kota Semarang. Disana ia tinggal dengan suami dan ketiga anaknya serta dengan uwaknya yang menjaga anak-anak bu Suci. Bu Suci mempunyai seorang suami yang sangat pengertian terhadap keluarganya.
Dia selalu mendukung apa saja yang bu Suci lakukan selama yang dilakukannya itu benar. Ia pun berniat untuk mencari pekerjaan sebagai guru kembali, karena ia sudah sangat rindu dengan pekerjaannya itu. Hingga suatu saat ia mengantarkan anaknya ke sekolah dan ia pun mendapat pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah dasar dimana anaknya bersekolah.
Hari pertama mengajar dilalui bu Suci dengan baik. Namun, ia mulai merasa ada suatu kejanggalan yang terjadi pada kelas tersebut. Sebisa mungkin bu Suci tidak pernah mencampurkan persoalan pribadi dengan persoalan di dalam pekerjaannya. Ia berusaha profesional dengan bisa membagi waktu, agar anak-anaknya tidak pernah merasa kehilangan sosok ibu dalam dirinya.
Hari-hari berikutnya dilalui bu Suci dengan mulus pula, namun sekarang ia mulai mengerti apa yang mengganjal didalam pikirannya. Seorang murid bernama Waskito ternyata telah menarik perhatiannya. Setiap kali ditanya tentang murid tersebut, semua anak seolah terdiam dan tidak ingin memberi jawaban pada bu Suci. Namun, akhirnya bu Suci pun mendapatkan jawaban atas semua yang terjadi. Ternyata muridnya yang bernama Waskito tersebut salah satu murid yang nakal, dan selalu membuat keonaran. Semua murid yang ada dikelas segan pada dia, mereka takut jika bermasalah dengannya. Menurut cerita yang ada, Waskito seringkali memukul dan menjahili temannya yang ada di kelas, tanpa sebab apa pun atau mereka merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang membuat Waskito marah. Entah kenapa bu Suci merasa ada hal yang perlu ia selesaikan dan ia ingin terlibat jauh pada masalah itu. Dorongan hati yang kuat membuat bu Suci semakin ingin membantu Waskito menyelesaikan masalahnya.

Sementara itu, anak kedua bu Suci telah di vonis oleh dokter mengidap penyakit ayan, sehingga kesehatannya perlu dijaga serta ia tidak boleh banyak beraktivitas. Semua cobaan seolah tengah menghadang pada bu Suci. Disisi lain ia ingin sekali berada di kelas serta mengetahui perkembangan muridnya yang nakal tersebut, namun disisi lain ia harus bersusah payah mengantar anaknya ke rumah sakit untuk berobat.
Akhirnya bu Suci pun mendatangi kediaman kakek dan Nenek Waskito untuk mendapatkan informasi yang sebanyak mungkin. Ia pun mendapatkan informasi bahwasannya Waskito sebenarnya merupakan anak yang baik, namun karena perilaku orang tuanya yang memperlakukannya dengan tidak baik maka ia pun menjadi murid yang nakal. Neneknya mengatakan bahwa ayahnya seringkali
memukul Waskito tanpa alasan yang jelas jika Waskito melakukan suatu kesalahan tanpa memberikan pengarahan yang baik, yang seharusnya Waskito perbuat, sementara ibunya selalu memanjakannya sehingga Waskito tidak pernah tahu mana yang baik dan buruk.
Selama tinggal bersama neneknya ia menjadi anak yang tahu aturan dan menjadi disiplin, namun setelah orangtuanya memintanya kembali, maka ia kembali menjadi anak yang nakal dan selalu menjahili teman-temannya.Bu suci mencoba membantu permasalahan yang dihadapi oleh Waskito. Seringkali ia memperhatikan semua perilaku Waskito, dan ia perlahan mencoba mendekati Waskito. Ia meminta Waskito untuk mengantar makanan pada anak keduanya yang sakit tersebut. Bu suci mencoba menggambarkan pada Waskito bahwa ia masih beruntung diberi kesehatan sehingga ia tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak berguna untuk hidupnya. Bu Suci juga memberi kepercayaan pada Waskito untuk membuat sesuatu, hingga pekerjaan yang dilakukan Waskito
dan kelompoknya mendapat penghargaan dari teman-temannya. Waskito dibuat ada keberadaannya oleh bu Suci. Selama ini semua murid yang ada di kelas menganggap Waskito hanya sebagai biang onar dan keributan sehingga keberadaanyya tidak diinginkan dan dibutuhkan. Namun, sekarang bu Suci mencoba membuat semua hal tersebut musnah.
Kini Waskito tinggal bersama bibinya, sehingga sedikit demi sedikit ia mulai mendapatkan pelajaran tentang sebuah kasih sayang. Terutama dari keluarga bibinya, yang selalu rukun meskipun keadaan ekonomi mereka sulit. Bahkan mereka kadangkali harus berbagi makanan. Namun Waskito senang tinggal di sana. Lantaran di sana ia mendapat pengajaran tentang sopan santun dan kasih sayang. Ibu Suci merasa lega dengan semua perubahan yang mulai Waskito tunjukkan.Namun suatu hari ia kembali mengamuk lantaran ada seorang yang menghina tanaman yang ia tanam, padahal maksud temannya tersebut hanya sekedar gurauan belaka. http://warnetgadis.blogspot.co.id/
Waskito sampai membawa Cutter yang di acuhkan keudara, namun dengan berani bu Suci merampas Cutter tersebut dari tangan tersebut saat Waskito lengah. Tanpa memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Entah kenapa ia yakin bahwa Wasktito tidak akan sanggup untuk menggunakan senjata tajam tersebut. Semua guru di sekloah tersebut sepakat untuk mengeluarkan Waskito dari sekolah karena sikap Waskito sudah keterlaluan. Namun bu Suci dengan segenap hati meminta agar diberi waktu untuk membimbing Waskito, jika ia gagal jabatannya sebagai guru rela jika harus di cabut. Ia pun menekankan kepada Waskito bahwa Bu Suci percaya bahwa Waskito akan
merubah sikapnya karena selain ia yang harus pindah, jabatan bu Suci sebagai guru juga dipertaruhkan untuknya.
Sejak saat itu bu Suci dan Waskito semakin dekat dan akhirnya sedikit demi sedikit Waskito mau berbagi cerita dan mau untuk mnerima nasihat bu Suci. Akhir semester Waskito naik kelas dan keluarganya sangat berterimakasih karena mereka tidak menyangka bahwa Waskito dapat merubah sikapnya dan dapat pula naik kelas. Waskito dan keluarga bu Suci pun berlibur ke desa mereka di Purwodadi sesuai dengan janjinya kepada Waskito. Sejak bertemu dengan Waskito bu Suci merasa hatinya telah dipertemukan dengan hati Waskito dan sejak saat itu pula keprofesionalisme yang bu Suci gunakan dalam memisahkan urusan pekerjaan dan rumah tangga tak beralu lagi semenjak kedatangan Waskito.
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran. Novel ini terdapat banyak sekali tokoh-tokohnya, tapi hanya ada dua tokoh utama dan beberapa tokoh pembantu. Salah satu tokoh utama dalam novel ini adalah Bu Suci. Bu Suci adalah seorang guru yang baik, ramah, ulet, bijaksana, dan sesuai dengan namanya suci. Yang kedua adalah Waskito, dia juga salah satu tokoh utama yang pada awalnya berwatak antagonis berubah menjadi protagonis menjelang akhir cerita berkat Bu Suci. Waskito adalah orang yang kasar, kurang ajar, dan salah satu orang yang”sukar” di sekolahnya. Namun, sebenarnya dia adalah anak yang baik. Karna Bu Suci, akhirnya si ”anak sukar” itu berhasil dibimbing ke arah yang benar. Dan kini Waskito terdaftar ke dalam baris anak-anak yang pandai di kelasnya. Pada akhir tahun pelajaran Waskito naik kelas.
 
UNTUK VERSI LENGKAP (TULISAN + GAMBAR + EDIT + RAPI)
SILAHKAN DATANG KE WARNET GADIS.NET
SIMPANG SMPN 1 SITIUNG, DHARMASRAYA
08777-07-33330 / 0853-6527-3605 

0 Response to "Cerpen Tahun 60 an"

Post a Comment