Warnet gadisnet

Warnet gadisnet
loading...
loading...

Makalah Tentang Konsep Dasar Manajemen Lingkungan Lengkap

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan tema “Konsep Dasar Manajemen Lingkungan”.
Makalah ini berisikan tentang Pengertian dasar-dasar manajemen. Ketika istilah manajemen banyak diadopsi oleh pihak dalam berbagai bidang kehidupan, orang dengan mudah menganggap bahwa manajemen merupakan suatu konsep yang sangat sederhana. Akhirnya, orang dengan mudah merangkai  kata manajemen dengan permasalahan yang harus di pecahkan. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang konsep dasar manajemen lingkungan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. http://www.warnetgadis.com/
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak Terutama kelompok kami yang telah bekerja untuk menyusun makalah konsep dasar manajemen lingkungan dari awal sampai akhir, yang tersusun dengan lancar.

Penulis

 
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR....................................................................................................       i
DAFTAR ISI...................................................................................................................       ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................       1
A. Latar Belakang......................................................................................................       1
B.  Rumusan Masalah.................................................................................................       1
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................       2
A. Definisi manajemen Lingkungan...........................................................................       2
B.  Aspek Lingkungan................................................................................................       3
C.  Kebijakan Lingkungan..........................................................................................       4
D. Manajemen Lingkungan Berbasis Kualitas...........................................................       10
E.  Peluang dan Tantangan Manajemen Lingkungan.................................................       12
F.   Pengembangan Berkelanjutan (Sustainable Development)...................................       18
BAB III PENUTUP........................................................................................................       19
A. Kesimpulan............................................................................................................       19
B.  Daftar Pustaka.......................................................................................................       19
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................       20


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manajemen lingkungan saat ini telah banyak mengalami perubahan yang cukup berarti terutama dimulai sejak awal 1990an. Penelitian mengenai efek dan akibat penerapan manajemen lingkungan telah banyak dilakukan terutama sejak munculnya ISO 14001 di tahun 1996.
Penerapan manajemen lingkungan yang baik di tingkat organisasi terutama akan memberi manfaat pada umumnya 3 elemen:
1.      Perlindungan lingkungan secara fisik.
2.      Membentuk budaya berkelanjutan dalam organisasi.
3.      Menanamkan nilai-nilai moral dan saling kepercayaan antar elemen organisasi.

B.     Rumusan Masalah
Makalah ini disusun dengan maksud antara lain memberikan gambaran pada apa itu manajemen lingkungan, serta perkembangannya.
Makalah ini akan membahas beberapa permasalahan, antara lain:
2.      Aspek lingkungan dan dampak lingkungan.
3.      Kebijakan lingkungan dan perkembangannya.
4.      Manajemen lingkungan berbasis kualitas.
6.      Peluang dan tantangan manajemen lingkungan.
7.      Pengembangan berkelanjutan (sustainable development)


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Manajemen Lingkungan
Untuk menjelaskan definisi manajemen lingkungan, kita lihat definisi manajemen secara umum sebagai berikut :
1.      Manajemen menurut pengertian Stoner & Wankel (1986) adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengendalikan usaha-usaha anggota organisasi dan proses penggunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang sudah ditetapkan,
2.      Sedangkan menurut Terry (1982) manajemen adalah proses tertentu yang terdiri dari kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Masih ada banyak definisi lain, namun pada intinya manajemen adalah sekumpulan aktifitas yang disengaja (merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan) yang terkait dengan tujuan tertentu.
Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitar subyek manusia yang terkait dengan aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan: tanah, udara, air, sumberdaya alam, flora, fauna, manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkungan adalah manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikan sekumpulan aktifitas merencanakan, mengorganisasikan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan.
Manajemen lingkungan adalah aspek-aspek dari keseluruhan fungsi manajemen (termasuk perencanaan) yang menentukan dan membawa pada implementasi kebijakan lingkungan (BBS 7750, dalam ISO 14001 oleh Sturm, 1998).
Manajemen lingkungan selama ini sebelum adanya ISO 14001 berada dalam kondisi terpecah-pecah dan tidak memiliki standar tertentu dari satu daerah dengan daerah lain, dan secara internasional berbeda penerapannya antara negara satu dengan lainnya. Praktek manajemen lingkungan yang dilakukan secara sistematis, prosedural, dan dapat diulang disebut dengan sistem manajemen lingkungan (EMS).
Menurut ISO 14001 (ISO 14001, 1996), sistem manajemen lingkungan (EMS) adalah:
“that part of the overall management system which includes organizational structure planning, activities, responsibilities,practices, procedures, processes, and resources for developing, implementing, achieving, reviewing, and maintaining the environmental policy”.

Jadi disimpulkan bahwa menurut ISO 14001, EMS adalah bagian dari sistem manajemen keseluruhan yang berfungsi menjaga dan mencapai sasaran kebijakan lingkungan. Sehingga EMS memiliki elemen kunci yaitu pernyataan kebijakan lingkungan dan merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan yang lebih luas.
Berdasarkan cakupannya, terdapat pendapat yang membagi manajemen lingkungan dalam 2 macam yaitu:
1.      Lingkungan internal yaitu di dalam lingkungan pabrik / lokasi fasilitas produksi. Yaitu yang termasuk didalamnya kondisi lingkungan kerja, dampak yang diterima oleh karyawan dalam lingkungan kerjanya, fasilitas kesehatan, APD, asuransi pegawai, dll.
2.      Lingkungan eksternal yaitu lingkungan di luar lokasi pabrik / fasilitas produksi. Yaitu segala hal yang dapat menimbulkan dampak pada lingkungan disekitarnya, termasuk masyarakat di sekitar lokasi pabrik, dan pihak yang mewakilinya (Pemerintah, pelanggan, investor/pemilik). Aktifitas yang terkait yaitu komunikasi dan hubungan dengan masyarakat, usaha-usaha penanganan pembuangan limbah ke saluran umum, perhatian pada keseimbangan ekologis dan ekosistem di sekitar pabrik, dll.
Yang dimaksud dengan lingkungan pada tulisan ini adalah yang dicakup dalam sistem manajemen lingkungan ISO 14001, yaitu yang berkaitan dengan lingkungan internal dan eksternal.

B.     Aspek Lingkungan
Diantara definisi aspek lingkungan adalah:
1.      Aspek lingkungan adalah elemen dari aktifitas organisasi, produk dan jasa yang dapat berinteraksi dengan lingkungan. Contoh: konsumsi air, pengeluaran zat beracun ke udara (GEMI,2001).
2.      Elemen dari aktifitas, produk, atau jasa perusahaan yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan dampak lingkungan (EPA, 1999).
Atau dapat dikatakan bahwa aspek lingkungan dalam diagram input-output proses produksi adalah semua elemen yang termasuk dalam non-produk atau by-produk.

Contoh kriteria aspek lingkungan dari Acushnet (EPA, 1999):
1.      Biaya pembuangan limbah
2.      Dampak pada kesehatan manusia
3.      Biaya material
4.      Tingkatan toksisitas
5.      Konsumsi energy
6.      Dampak pada sumberdaya, seperti buruh
7.      Dll.

Adapun definisi dampak lingkungan adalah :
1.      Dampak lingkungan didefinisikan sebagai interaksi aktual dengan atau memberi dampak pada lingkungan (EPA, 1999).
2.      Adalah setiap perubahan pada lingkungan, apakah menguntungkan atau merugikan, secara keseluruhan atau sebagian yang diakibatkan dari aktifitas organisasi, produk atau jasanya. (GEMI, 2001).

Antara aspek dan dampak lingkungan terdapat hubungan sebab-akibat, dimana dampak lingkungan berasal dari aspek lingkungan, namun aspek lingkungan tidak selalu berdampak lingkungan (EPA, 1999). Untuk mengukur aspek dan dampak lingkungan ini dilakukan bermacam metoda. Salah satunya adalah metoda 6 langkah pemetaan proses EPA (1999).

C.    Kebijakan Lingkungan
Dasar dari manajemen lingkungan seperti dijelaskan dalam definisinya adalah adanya kebijakan lingkungan. Kualitas kebijakan lingkungan tergantung pada tinggi rendahnya orientasi. Yang telah dikenal selama ini yaitu orientasi kebijakan memenuhi peraturan lingkungan (compliance oriented), dan yang berusaha melebihi standar peraturan tersebut (beyond compliance).

1.      Evolusi kebijakan lingkungan
Kebijakan-kebijakan lingkungan yang diadopsi oleh negara-negara anggota OECD selama 25 tahun terakhir telah menunjukkan evolusi yang tetap. Awalnya kebijakan difokuskan pada membersihkan polusi yang ada dan mencoba untuk mengurangi polusi dari sumber titik di titik pembuangannya (ukuran end-of pipe). Kemudian strategi manajemen berpindah ke arah memodifikasi proses-proses produksi sehingga meminimalkan jumlah polusi yang dihasilkan di saat pertama (cleaner production / pollution prevention). Sementara masih banyak yang perlu dilakukan untuk menghilangkan masalah-masalah lingkungan jangka panjang di negara-negara OECD, dan untuk tetap pada jalur (stay the course) dengan banyak strategi manajemen sebelumnya, perspektif sustainable development yang telah diadopsi di Konferensi Rio (1992), merangsang langkah lebih jauh menuju kebijakan berfokus pada pencegahan polusi, integrasi perhatian lingkungan dalam keputusan ekonomi dan sektoral, dan kerjasama internasional (OECD, Environmenal Performance Reviews, 1997).

2.      Green Wall Effect
Banyak pemimpin lingkungan dan ahli strategi lingkungan perusahaan menemukan dalam pekerjaannya yang disebut efek Green Wall (Shelton dalam Piasecki et.al. (1999), yaitu titik dimana keseluruhan organisasi menolak untuk maju kedepan dengan program manajemen lingkungan strategisnya, dan inisiatif lingkungan berhenti mati di jalurnya, seperti menabrak dinding.
Gejala menabrak Green Wall antara lain keputusan negatif atau menurun karena kurangnya dukungan manajemen bagi konsep dan program manajemen lingkungan; program lingkungan, kesehatan, dan keselamatan (EH&S) yang terasa kurang fokus, dan ketidak mampuan untuk menunjukkan pada fungsi bagian lain di organisasi, tingkat pengembalian yang menarik pada investasi (ROI) dari program-program lingkungan yang akan dijalankan.
Akibat efek Green Wall antara lain :
a.       Program lingkungan terasing dari program-program lain di perusahaan
b.      Program lingkungan sering dipinggirkan atau dianggap sebagai program terakhir, tidak diprioritaskan
c.       Pola kerjasama bidang lingkungan dengan bidang-bidang lainnya sering berjalan sendiri-sendiri, tidak menunjukkan keterkaitan yang erat.
d.      Pertimbangan bidang lingkungan jarang dimasukkan sebagai saran pertimbangan kebijakan perusahaan.
Penyebab efek Green Wall antara lain :
a.       Sebagai akibat penerapan kebijakan lingkungan satu arah yaitu penekanan pada memenuhi aspek peraturan lingkungan, sebagai konsekuensi strategi ‘end-of-pipe’.
b.      Bagian lingkungan kurang mampu mengkomunikasikan tugas-tugas dan menunjukkan hasil pekerjaannya dalam bahasa yang dimengerti elemen bisnis lain di perusahaan (bahasa lingkungan vs bahasa bisnis).
c.       Kurangnya pemahaman elemen organisasi lain pada fungsi bagian lingkungan dan tugas-tugasnya di perusahaan, selain sebagai ‘penjaga peraturan’.
d.      Orientasi jangka pendek, pada pemenuhan peraturan Pemerintah, dalam arah strategi kebijakan lingkungan perusahaan.

3.      Kebijakan Lingkungan dan Pasar Bebas
James E.Rogers (Marcus et.al., 1997, p.9) menyatakan bahwa pasar bebas baik bagi aspek lingkungan karena:
a.       Pasar yang kompetitif menginginkan efisiensi, memaksa produsen mengurangi limbah
b.      Pasar bebas didorong konsumen, konsumen menginginkan tanggung jawab lingkungan
c.       Pasar bebas menyediakan model dan dasar bagi peraturan lingkungan yang efektif biaya.
Ada 2 pendekatan karakteristik kepemimpinan lingkungan: beyond command and control dan beyond compliance. Dari sudut pandang perusahaan, keberhasilan beyond command and control adalah menyeimbangkan peraturan lingkungan yang merefleksikan pemikiran terbaik saat ini, yang mendorong inovasi.
Michael Porter dari Harvard Business School menyatakan bahwa peraturan lingkungan tidak akan melanggar daya saing / competitiveness, malah jadi sumber persaingan. Kurangnya standar lingkungan punya efek sama dengan hambatan perdagangan (protective trade barrier) –akan menyebabkan perusahaan domestik tertinggal dalam inovasi dan efisiensi. Kemampuan memenuhi standar lingkungan yang ketat menjadi produk yang bisa diexport. Contohnya perusahaan listrik AS telah mampu mengoperasikan fasilitas di negara lain dengan keunggulan standar lingkungan. (Marcus et.al., 1997).
Peraturan lingkungan agar efektif harus berfokus pada kinerja daripada keperluan hardware tertentu; jadi peraturan lingkungan harus:
a.       Memungkinkan perusahaan memenuhi standar lewat P2 daripada kontrol end-of-pipe.
b.      Menggunakan mekanisme berbasis pasar yang memotivasi perusahaan untuk memenuhi tujuan-tujuan lingkungan dengan biaya minimal
c.       Mendirikan tujuan dan memberikan perusahaan peluang untuk mencapai tujuan tersebut lewat usaha sukarela
Dari sudut pandang perusahaan, kuncinya beyond compliance? terdapat kecenderungan bahwaperusahaan multinasional akan mendirikan operasinya di negara dengan peraturan lingkungan lebih ketat.
Ciri pendekatan beyond compliance:
a.       Komitmen perusahaan
b.      Pelaporan dan pengukuran kinerja lingkungan
c.       Pencegahan polusi dan minimasi limbah
d.      Pelatihan dan tanggungjawab karyawan
e.       Pengurusan lingkungan

4.      Struktur Organisasi Penanggung Jawab Kebijakan Lingkungan
Perusahaan yang tidak memberikan prioritas yang tinggi terhadap praktek manajemen lingkungan tidak akan mengorganisasikan dalam cara yang sama dengan perusahaan yang memberikan prioritas tinggi pada program-program lingkungan. Bagaimana perusahaan mengorganisasi dan menstrukturkan manajemen lingkungan berpengaruh pada evaluasi keseluruhan sistem manajemen lingkungan perusahaan.

5.      Manajemen Lingkungan Perusahaan
Praktek manajemen lingkungan perusahaan ditujukan agar menyatu dengan praktek manajemen bisnis umum, seperti telah dinyatakan oleh ISO 14001.
Praktek manajemen lingkungan perusahaan sendiri perkembangannya banyak diinspirasikan oleh evaluasi implementasi ISO 14001. Seperti saat ini banyak bermunculan unit-unit belajar di perguruan tinggi seluruh dunia yang khusus mempelajari Corporate Environmental Management, seperti di MIT, Harvard University, Lund University, dan berbagai kampus ternama lainnya.
Alasan manajemen lingkungan banyak dipelajari adalah karena perkembangan keilmuan manajemen lingkungan yang dianggap banyak kalangan akademisi ternyata sangat penting dalam ikut menentukan perkembangan bisnis dunia dimasa mendatang.
Aspek manajemen lingkungan yang berfokus fisik seperti definisi lingkungan secara tradisional, ternyata berpengaruh pula secara non-fisik dalam hal moralitas dan aspek modal spiritual manusia pelakunya. Pertanyaan yang terkait dengan ini adalah: Bukankah manajemen lingkungan berfokus pada fisik dalam bentuk perlindungan lingkungan? Lalu apa hubungannya dengan aspek non-fisik?
Memang praktek manajemen lingkungan selama ini berfokus pada perlindungan lingkungan dan memang berakar dari sasaran fisik lingkungan tersebut. Namun pada prakteknya, pada perusahaan yang telah mengimplementasikan ISO 14001, bila melakukannya dengan baik, akan ditanggapi karyawan dengan lebih banyak menyebutkan dampak intangible-nya yaitu peningkatan motivasi kerja (karena keamanan dan keselamatan kerja diperhatikan perusahaan), peningkatan kepercayaan karyawan terhadap kebijakan yang ditempuh manajemen, peningkatan citra perusahaan dikalangan karyawan, dst. (Hillary, 2000; Purwanto, 2002).
Bila kita mengenal perangkat manajemen lingkungannya yang berfokus mengelola aset fisik beyond compliance seperti adalah LCA, PP, DfE, Env.Acc., Eco-efficiency, dll. Maka dengan menerapkan program dan perangkat peduli lingkungan seperti diatas, dampak tidak langsungnya akan berupa pemberdayaan aset virtual seperti:
a.       Training kompetensi SDM lingkungan terkait dengan upaya inovatif Pencegahan Polusi menuju Sustainable Development lewat Manajemen Lingkungan Terintegrasi,
b.      Pemberdayaan karyawan (lewat alokasi tanggung jawab dan otoritas keputusan),
c.       Upaya peningkatan ketrampilan dan kompetensi pengawasan lingkungan,
d.      Penghargaan pada kebersihan, keteraturan, kedisiplinan,
e.       Upaya mengasah inovasi produk dan proses ramah lingkungan, lewat komunikasi yang erat dengan interested parties
Gambaran pengaruh manajemen lingkungan bila diterapkan di 3 jenis perusahaan; (a) Jasa; (b) Investasi keuangan; (c) Manufaktur.
a.        Jasa
Contohnya hotel --> aktifitas terkait jasa kepuasan konsumen yang menginap di hotel tersebut Pengaruh penerapan manajemen lingkungan yang baik:
1)  Fisik --> dampak lingkungan kecil:
a)      limbah cair rumah tangga
b)      energy
c)      limbah dapur
d)     dst.
2) Virtual --> manajemen lingkungan bisa menimbulkan kebetahan dari pelanggan terhadap suasana ramah lingkungan, suasana dekat dengan alam, mendorong kesatuan dengan alam lewat keteraturan, disiplin, dan pelayanan yang tulus dari karyawan hotel.

Sasaran lingkungan dapat meliputi:
a)      meminimalkan dampak lingkungan
b)      kenyamanan lingkungan pada tamu
c)       moral yang tinggi dari karyawan hotel bisa tercermin dan dirasakan tamu (seperti kepercayaan, keteraturan, disiplin, customer oriented services).

b.      Keuangan / investasi
Aktifitas manajemen lingkungan terkait dengan jasa kepuasan konsumen --> besar dana, ketepatan pembayaran, konsultan finansial, dst. Terkait langsung dengan tingkat kepercayaan antara institusi pemodalan dan pelanggan.
Tindakan mengawasi permodalan untuk tindakan melindungi lingkungan dan perhatian pada karyawan akan membuahkan rasa Saling percaya (mutual trust) antara manajemen dan karyawan. Kebutuhan karyawan tersebut bisa dari segi keselamatan dan kesehatan kerja, kenyamanan dan keamanan kerja. Di Jepang bahkan termasuk masalah keluarga, suami / istri, anak, juga diperhatikan oleh atasannya di perusahaan.

c.       Manufaktur
Bila menggunakan pertimbangan siklus hidup akan membawa pada pengurusan produk / product stewardship yang melibatkan peran serta dari masyarakat dan interested parties lebih besar, dan peningkatan imej perusahaan dapat efektif dilakukan.
Sasaran lingkungannya:
1)       fisik --> meminimalkan dampak lingkungan lewat PP, DfE, Product Stewardship, dst., meminimalkan dampak kesehatan dan keselamatan pekerja.
2)       virtual --> meningkatkan motivasi kerja, keteraturan, kedisiplinan, dan kepercayaan karyawan dan interested parties terhadap apa yang dilakukan perusahaan. Imej bisa diarahkan pada pembentukan celah pasar / segmen pasar baru.

D.  Manajemen Lingkungan Berbasis Kualitas
1.      Definisi
ISO 8402 (1986) mendefinisikan kualitas sebagai : totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bersandar pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau diimplikasikan.
Manajemen lingkungan berbasis kualitas, atau sering kita sebut Total Quality Environmental Management (TQEM), sesuai dengan definisi diatas adalah praktek manajemen lingkungan yang mampu memberikan nilai tambah pada produk atau jasa akhir perusahaan, yang sesuai dengan keinginan konsumen lingkungan.

2.       TQEM
TQEM dapat didefinisikan sebagai :
a.        Identifikasi, pengkajian, dan perbaikan terus-menerus atribut-atribut lingkungan yang berkontribusi pada kualitas total dari produk dan operasi perusahaan. (Fiksel, 1996, p.41).
b.      Cara pemikiran sistem lingkungan lebih holistik, melalui pengambilan tanggungjawab lingkungan diseluruh rantai operasi-operasi bisnis (Sammalisto, 2001).
TQEM berangkat dari pandangan bahwa limbah atau polusi dapat dilihat sebagai inefisiensi atau kecacatan di dalam proses yang berakibat rendahnya kinerja lingkungan perusahaan. Perangkat dan filosofi Total Quality Management (TQM) dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja lingkungan dengan menghilangkan limbah atau mengurangi dampaknya. Aplikasi perangkat ini dan filosofinya untuk memperbaiki kinerja lingkungan dikenal sebagai Total Quality Environmental Management (TQEM).
TQEM pertama kali diluncurkan oleh Global Environment Management Initiatives (GEMI, suatu asosiasi lebih dari 30 perusahaan besar dunia yang menitik beratkan pada kerjasama dalam bidang pengelolaan lingkungan di perusahaan, 2000), di tahun 1993, yang idenya sebagian diinspirasikan dari keberhasilan TQM di awal tahun 1990an. TQEM secara umum adalah sistem pengelolaan lingkungan dengan menerapkan prinsip-prinsip kualitas total. Prinsip kualitas yang dimaksud adalah:
a.       Fokus pada pelanggan.
b.      Perbaikan terus-menerus.
c.       Kerja tim
d.      Sistem manajemen.
Perangkat TQEM identik dengan yang digunakan dalam setiap program TQM, meliputi perangkat Statistical Process Control (SPC) 7 tools (Pareto Chart, Diagram cause and effect, control chart, dll). Dalam program TQEM setiap perangkat berfungsi dengan kegunaan yang berbeda. Ketika digunakan dikombinasikan dengan lainnya, perangkat itu berfungsi:
a.       Mengidentifikasi peluang pencegahan polusi
b.      Menentukan kemungkinan penyebab polusi
c.       Mendirikan tingkat polusi yang diharapkan dari proses, dan
d.      Merencanakan aksi mencegah polusi tersebut

3.      Perbedaan EMS / ISO 14001 dan TQEM
Standar ISO 14001 disusun dengan tujuan menyediakan pendekatan terstruktur untuk mengelola kualitas dan lingkungan, untuk menjamin produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan bagi kualitas atau menjaga kebijakan lingkungan (Ollila A., 1995).
Perbedaan EMS dan TQEM antara lain (Oliver J., 1996):
a.       EMS menolong organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan praktek lingkungan ke dalam sistem operasi mereka. Batasan pengaruh EMS lebih kecil daripada TQEM karena cenderung mempunyai keperluan terstruktur bagi hanya kinerja lingkungan dengan integrasi yang kecil dengan dimensi kemasyarakatan lainnya.
b.      Filosofi TQEM satu sinergi dengan TQM yaitu prinsip-prinsipnya dikembangkan untuk mencapai manajemen sumberdaya berkelanjutan untuk memastikan memenuhi kebutuhan masyarakat, baik sekarang dan dimasa depan.
c.        TQEM bukan perangkat (tool) namun filosofi manajemen radikal yang mana organisasi perlu mempertimbangkan kinerja sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk menciptakan budaya perbaikan terus-menerus secara intra dan antar komunitas belajar.
d.      Baik TQEM maupun EMS sama-sama mengarah pada isu-isu lingkungan. Namun pendekatan TQEM pada dasarnya berbeda karena menantang prinsip-prinsip organisasi, terutama yang berhubungan dengan tanggungjawab sosial. Karena itu, TQEM dengan pandangan holistiknya: memenuhi kebutuhan masyarakat, “memerlukan struktur baru, dari bawah keatas” bagi terjadinya proses belajar inovatif.
Dalam jangka menengah dan jangka panjang, TQEM akan mempunyai pengaruh yang lebih besar pada ‘sustainable development' karena pendekatan filosofi dan dimensi kemasyarakatannya yang lebih tinggi.

4.      Pengukuran Kualitas Manajemen Lingkungan
Manajemen lingkungan berbasis berkualitas seperti telah dijelaskan diatas adalah sistem pengelolaan yang bertujuan memuaskan harapan dan keinginan para konsumennya (dalam arti luas; 5 golongan konsumen lingkungan). Konsep total dimaksudkan mengacu pada usaha memaksimalkan keterkaitan semua bagian sistem proses operasional untuk memuaskan keinginan konsumen keseluruhan.
Untuk mengukur sejauh mana pencapaian kualitas manajemen lingkungan, para ahli lingkungan menyarankan menggunakan perangkat antara lain dengan melakukan perbandingan (benchmarking) dengan perusahaan lain atau 'gap-analysis' pada standar kualitas manajemen lingkungan tertentu seperti:
a.       Standar peraturan lokal dan internal perusahaan mengenai lingkungan. Audit lingkungan mengenai ini dikenal sebagai audit pemenuhan (compliance audit) dan audit sistem manajemen .
b.      Standar internasional dan regional seperti ISO 14000 dan EMAS (EMS khusus negara-negara Eropa). Terutama bertujuan agar EMS perusahaan sejalan dengan model yang diakui secara internasional dan sesuai dengan sistem manajemen lingkungan internasional.
c.       Standar regional atau sekelompok perusahaan berfokus hal yang disepakati bersama, seperti TQEM, dan sustainable development. Terutama bertujuan perbaikan lebih jauh dalam implementasi system manajemen lingkungan menuju sasaran tertentu.

1.   Strategi Perusahaan Menghadapi Perubahan
Setiap orang tidak dapat membayangkan dan mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa mendatang. Banyak usaha untuk meramalkan masa itu, tetapi opini yang dibuat masing-masing sangat besar perbedaannya sehingga sulit untuk mempercayainya. Beberapa karakteristik umum dapat digambarkan dengan melihat prediksi paling populer.
Survey Manufaktur Masa Depan tahun 1992 oleh Kim dan Miller (Rolstadas, 1995) di AS menghasilkan gambaran antisipasi manajer mengenai perubahan dalam lingkungan bisnis (dalampersentase responden yang menyebutkan masalah ini) :
a.       Bertambahnya kompetisi pasar dan kerjasama global (37%)
b.      Lebih berfokus pada harapan konsumen untuk mutu dan waktu (24%)
c.       Perubahan alamiah tenaga kerja: tugas, perilaku, harapan, dan kemampuan mereka (19%)
d.      Bertambahnya perhatian dan peraturan untuk masalah lingkungan (13%)
e.       Berkurangnya atau tidak tumbuhnya pasar domestik (12%)
f.       Perubahan teknologi yang pesat dan siklus hidup produk (produk life cycle) yang lebih pendek (10%)
g.      Bertambahnya tingkat persaingan (9%)
h.      Informasi yang tersedia lebih cepat dengan cakupan yang lebih luas (6%)

Gambaran mengenai prediksi situasi masa depan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi penentuan arah kebijakan strategi perusahaan, termasuk bidang lingkungan, antara lain (Mahayana, 1998) :
a.        Masa penyusutan (downsizing) besar organisasi
b.       Organisasi lebih ramping (lean) dan datar (flat)
c.       Organisasi lebih bersih (clean)
d.      Masa maraknya paham 'sustainable development', pengembangan / pertumbuhan dengan visi berkelanjutan.
e.       Tuntutan konsumen diberbagai wilayah akan produk ‘green’ sangat tinggi.
f.        Segi teknologi, masa penggunaan IT sangat intens dan tinggi, hampir semua data tersedia dalam bentuk digital.
g.      Persaingan antar perusahaan sangat kuat, sebagai imbas sangat luasnya saluran informasi mengenai, produk dan jasa.
h.      Budaya yang dianut organisasi adalah budaya informasi, banyak keputusan didasarkan keakuratan dan kecepatan informasi.
i.        'Borderless competitiveness' dimana persaingan terjadi tanpa dibatasi sekat negara dan wilayah.

Yang menarik adalah bagi kalangan pebisnis Jepang, faktor kompetisi terpenting adalah keandalan produk disusul penyerahan produk tersebut yang terpercaya mutunya, sedangkan di Eropa dan AS, factor kompetisi lebih dipandang pada kesesuaian mutu produk baru disusul penyerahan produk yang terpercaya mutunya.
Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, jalan yang ditempuh perusahaan yang hendak bertahan dalam persaingan global antara lain dengan berusaha memperoleh pengakuan atas sistem yang dikelolanya secara internasional agar produk mereka tetap diterima dan diakui pasar sebagai produk yang bermutu dan sistem yang dijalankan telah memperhatikan standar internasional. ISO 14000 sejak diluncurkan tahun 1996, mengikuti kesuksesan peluncuran ISO 9000 telah menjadi acuan di banyak negara dalam mengukur tingkat kesadaran dalam pengelolaan lingkungan di suatu perusahaan. Selain itu telah menjadi syarat di beberapa wilayah dalam penerapan kebijakan perdagangannya.
Melihat gambaran perubahan masa depan diatas yang memerlukan bentuk perusahaan yang mampu beradaptasi secara cepat, dibutuhkan bentuk perusahaan yang mampu belajar dengan cepat. Karena itu bentuk organisasi belajar (learning organization) merupakan pilihan yang relevan untuk menjawab tantangan semacam ini. Ini sesuai dengan tuntutan era bisnis masa depan yang dikenal pula sebagai era ekonomi pengetahuan.
Jalur informasi yang semakin terbuka dan tanpa batas memungkinkan perkembangan infomasi dan pengetahuan aktor bisnis semakin cepat. Batasan fisik sudah semakin berkurang, seiring tuntutan pelanggan yang semakin besar. Untuk mengantisipasinya perusahaan banyak berpaling pada bentuk mengelola asset non-fisik dari manusia yaitu pengetahuannya. Ini tentu masuk akal karena yang dibutuhkan dan bernilai bagi perusahaan dalam diri manusia adalah pengetahuannya karena peran fisik sudah banyak diambil alih teknologi pembantu aktifitas manusia. Sehingga timbul faham mengelola bisnis dalam cara lain yang disebut manajemen pengetahuan (knowledge management; Pojasek, 2001). Uraiannya sebagai berikut.
Mengelola Pengetahuan (knowledge management) adalah upaya mengelola modal virtual yang dimiliki para anggota organisasi (termasuk pengalaman, ketrampilan, data, dan informasi), sehingga tujuan organisasi dapat terwujud. Perspektif kerangka kerja ini adalah memandang semua prosesproses organisasional sebagai proses pengetahuan. Karyawan dijelaskan sebagai pekerja pengetahuan yang ditugaskan menyaring isi dan meningkatkan nilai proses pengetahuan dalam organisasi. Semua karyawan dapat mengkomunikasikan isi yang bernilai karena mereka berbagi konteks organisasional yang sama. (Pojasek, 2001). Knowledge Management (KM) adalah kerangka kerja yang sekarang banyak dipakai organisasi untuk menerjemahkan isi / content kedalam nilai pemegang saham (Pojasek, 2001). KM adalah bentuk yang sesuai dengan era ekonomi pengetahuan di abad informasi mendatang. (Baca KM dariwww.sveiby.com). Paham ini tumbuh syaratnya ditunjang arus informasi yang diberi fasilitas sangat tinggi / difasilitasi sangat baik oleh perusahaan, dan dilandasi semangat moral kerjasama, kepercayaan, dan sinergi yang tinggi pula. Contoh organisasi KM antara lain konsultan manajemen, IT, perusahaan yang mengandalkan jasa IT, dsb. (spt. Microsoft, IBM, Intel, Arthur Andersen Consulting, dsb.)

2.  Perubahan paradigma strategi lingkungan perusahaan
Sekarang ini, manajer lingkungan jarang berpikir bahwa mereka sebagai pemimpin teknologi dalam area produk dan proses. Inti tantangan bagi semua manajer adalah untuk memposisikan perusahaan sehingga dapat memperbaiki, berinovasi, dan menciptakan nilai pada produk atau jasa. Karena lingkungan ditakdirkan untuk bermain dengan peran yang meningkat berpusat pada proses, manajer lingkungan harus berpikir peran baru mereka (Ferron dalam Marcus et.al. (ed.), 1997, p.80).

Dari sisi perkembangan manajemen lingkungan sendiri, manajemen lingkungan sebagai bagian dari praktek manajemen bisnis keseluruhan dituntut untuk bersikap proaktif dalam mendukung aktifitas bisnis perusahaan.
Aktifitas bisnis hanya memiliki 2 fungsi dasar yaitu pemasaran dan inovasi (Drucker). Sehingga inovasi dan pemasaran harus menjadi bagian dari manajemen lingkungan bila tidak ingin tersingkir dari pertimbangan bisnis.Inovasi lingkungan termasuk tidak hanya teknologi baru, namun juga sistem manajemen baru yang mungkin dipandang remeh oleh manajer lingkungan dengan perspektif tradisional.
Inovasi lingkungan sekarang mulai menunjukkan arah dalam perancangan produk baru (DFE, penggunaan energi dan material lebih efisien), proses manufakturing baru (manufakturing sadar lingkungan), pendekatan baru pada akunting (eco-accounting), pemasaran produk dalam cara baru (pemasaran green and clean), dan inisiatif manajemen baru ISO 14001 dan TQEM. (Sammalisto, 2001).
Inovasi lingkungan selalu berfokus meningkatkan nilai tambah pada pemilik saham. Bentuknya dapat berfokus proses disebut inovasi proses produksi, dan lainnya berfokus inovasi pemasaran, bertujuan meningkatkan nilai lingkungan pada produk dalam persepsi pelanggan. Sehingga pelanggan mau member nilai lebih pada produk yang ditawarkan dan berpeluang menciptakan pangsa pasar tersendiri (GEMI,2001).
Untuk melangkah berfokus proses, profesional lingkungan perlu mempertimbangkan 5 langkahlangkah dasar berikut:
a.       Fokus ke core-competence, visi dan misi perusahaan secara keseluruhan.
b.       Fokus ke proses. Ke penyebab masalah lingkungan dan limbah, dengan pertolongan perangkat kualitas TQEM.
c.       Fokus ke nilai tambah lingkungan. Mengetahui nilai tambah lingkungan. Pertanyaan dasar: apa yang dapat diberikan aspek-aspek lingkungan sebagai nilai tambah pada pemegang saham perusahaan?
d.      Menyusun optimalisasi nilai tambah yang dapat dilakukan dalam bentuk strategi lingkungan perusahaan.
e.       Komunikasi hasilnya secara efektif dengan menggunakan sebanyak mungkin bahasa moneter dan kuantifikasi aspek kualitatif.

3.      Pandangan Integrasi Lingkungan - Bisnis
Integrasi lingkungan – bisnis didefinisikan sebagai koordinasi manajemen lingkungan dengan fungsifungsibisnis yang lain seperti proses manufaktur, pembelian, dan pemasaran (Haveman et.al., 1999). Pada prakteknya adalah memasukkan pertimbangan lingkungan ke dalam proses pengambilan keputusan fungsi bisnis lain, seperti proses produksi manufaktur dan pembelian material, dengan memperhatikan kemampulabaan dan core-competence perusahaan. Fungsi ini adalah perkembangan dari cara pandang manajemen lingkungan lama yang hanya sekedar meminimalkan pertanggungan lingkungan dan resiko lingkungan. Dengan begitu diharapkan aspek lingkungan juga akan mempunyai nilai tambah dalam aktivitas bisnis perusahaan.
Apa yang menghambat integrasi bisnis? studi oleh konsultan Arthur D.Little terhadap eksekutif EH&S (Environment Health & Safety) di Amerika tahun 1995, dan laporan Steven A. Melnyk tahun 1996, menyebutkan (Piasecki, 1999) :
a.       Terdapatnya budaya EH&S yang terpisah dengan budaya perusahaan
b.      Kurangnya penerimaan isu-isu EH&S oleh staf bisnis perusahaan
c.       Banyak manajer bisnis kurang mengerti kegunaan ‘green manufacturing’, komponennya dan dampaknya pada kinerja perusahaan. Hubungan antara ‘green manufacturing’ dan ukuran kinerja bisnis umum --seperti biaya, kualitas, lead time, fleksibilitas-- kurang dimengerti.


Terdapat 2 tingkatan integrasi bisnis (Haveman et.al., 1999):
a.       Melibatkan kepedulian karyawan dan akuntabilitas pada isu-isu lingkungan, manajer bisnis diasumsikan ikut bertanggung jawab mencapai tujuan lingkungan, seperti memenuhi peraturan, mengurangi pengeluaran limbah beracun, meningkatkan efisiensi penggunaan material. Program lingkungan seperti pencegahan polusi penting sukses di tahap ini. Elemen-elemen penting pada tingkatan ini antara lain:
1)      Mendapatkan komitmen manajemen senior
2)      Penataan tujuan (goal-setting), memberi penjelasan harapan spesifik dan ukuran kemajuan
3)      Keterlibatan dan tanggungjawab karyawan, mengurangi hambatan organisasional dan meningkatkan komitmen
4)      Ukuran kinerja, memberikan kejelasan pada karyawan hasil usaha
5)      Pembiayaan lingkungan, meyakinkan bahwa manajer bisnis membuat keputusan dengan informasi yang lengkap
b.      Integrasi aktual pertimbangan lingkungan ke dalam sistem bisnis dan proses utama, melibatkan memasukkan pertimbangan lingkungan kedalam sistem bisnis dan disain proses, sehingga perbaikan lingkungan terjadi hampir secara alami. Akhirnya tingkatan ini mengurangi ketergantungan pada program-program dan strategi perlindungan lingkungan terpisah seperti pencegahan polusi, juga fungsi-fungsi EH&S lainnya. Aturan umumnya antara lain:
1)      Mendefinisikan kembali isu-isu manajemen lingkungan sebagai isu-isu penggunaan material. Perusahaan belajar melihat bahan sisa dan limbah sebagai isu penggunaan material yang tidak efektif.
2)       Mengarahkan isu-isu lingkungan dengan tujuan bisnis kunci. Berarti pemikiran kembali dan perancangan ulang tujuan bisnis untuk mengakomodasi tujuan lingkungan
3)      Merancang secara konsisten kedalam sistem manajemen. Isu kuncinya adalah meyakinkan perbaikan lingkungan sesuai / compatible dengan tujuan manajemen lain.

Dari pengalaman perusahaan manufaktur SC Johnson (Haveman et.al., 1999), sukses perusahaan mengintegrasikan lingkungan dapat diarahkan lebih pada ketrampilannya memasukkan pertimbangan lingkungan dalam pemasaran (sebagai core-competencenya) daripada di manufakturing. Riset pasar dan analisanya, pengembangan produk, dan manajemen produk adalah tulang punggung perusahaan dan punya pengaruh besar dalam pembuatan keputusan perusahaan. Staf lingkungan menyadari usaha integrasi yang sukses harus berhubungan dengan fungsi-fungsi bisnis inti ini. Bagi integrasi bisnis yang sukses, staf lingkungan harus mendemonstrasikan nilai tambah dari memasukkan isu lingkungan diantara tujuan bisnis yang ada.

F.   Pengembangan Berkelanjutan (Sustainable Development)
Sebenarnya tidak ada definisi secara global bagi Sustainable Development (SD) saat ini. Juga cenderung tidak akan ada definisi global mengenai konsep-konsep ini, karena konteks sustainabilitas berbeda-beda diseluruh dunia. Masalah definisi dasar seperti ini seharusnya tidak digunakan sebagai dalih untuk tidak melakukan proses kerja sustainabilitas, karena perbedaan-perbedaan kecil tidak mempengaruhi semua implikasi praktis. Titik awal dari pembahasan ini adalah definisi yang digunakan komisi Brundtland.
Pengembangan berkelanjutan (sustainable development, sering diterjemahkan pembangunan bila berbicara dalam konteks negara) seperti didefinisikan oleh United Nations Commision on Environment and Development (UNCED) atau komisi Brundtland, adalah : 'meeting the basic needs of all the world's people today without compromising the ability of future generations to meet their needs'. (GEMI, 1998).




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Manajemen lingkungan adalah aspek-aspek dari keseluruhan fungsi manajemen (termasuk perencanaan) yang menentukan dan membawa pada implementasi kebijakan lingkungan.
Aspek lingkungan adalah elemen dari aktifitas organisasi, produk dan jasa yang dapat berinteraksi dengan lingkungan. Contoh: konsumsi air, pengeluaran zat beracun ke udara Adapun  dampak lingkungan adalah setiap perubahan pada lingkungan, apakah menguntungkan atau merugikan, secara keseluruhan atau sebagian yang diakibatkan dari aktifitas organisasi, produk atau jasanya.
Gambaran mengenai prediksi situasi masa depan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi penentuan arah kebijakan strategi perusahaan, termasuk bidang lingkungan, antara lain (Mahayana, 1998) :
1)       Masa penyusutan (downsizing) besar organisasi
2)       Organisasi lebih ramping (lean) dan datar (flat)
3)      Organisasi lebih bersih (clean)
4)      Masa maraknya paham 'sustainable development', pengembangan / pertumbuhan dengan visi berkelanjutan.
5)      Tuntutan konsumen diberbagai wilayah akan produk ‘green’ sangat tinggi.
6)       Segi teknologi, masa penggunaan IT sangat intens dan tinggi, hampir semua data tersedia dalam bentuk digital.
7)      Persaingan antar perusahaan sangat kuat, sebagai imbas sangat luasnya saluran informasi mengenai, produk dan jasa.
8)      Budaya yang dianut organisasi adalah budaya informasi, banyak keputusan didasarkan keakuratan dan kecepatan informasi.
9)      'Borderless competitiveness' dimana persaingan terjadi tanpa dibatasi sekat negara dan wilayah.

B.     Saran
Melihat kenyataan bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal diperlukan sebuah hubungan timbal balik yang yang erat maka diperlukan sebuah koordinasi antar lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA

AtKisson, Alan, Believing Cassandra: an Optimist look at a Pessimist World, Chelsea Green Publishing Co., Vermont, USA, 2000
Brown, Alan, Ton, van der Wiele, A typology of approaches to ISO certification and TQM, Australian Journal of Management, 21, 1, 57-73, 1996
Covey, Stephen, 7 Habit of Highly Effective People, 1997
Fiksel, J., Design for Environment: Creating Eco-efficient Products and Process, McGraw-Hill, USA, 1996
Global Environmental Management Initiatives, Environmental Self-Assessment Program, GEMI, Washington DC, 1994
Global Environmental Management Initiatives, Environmental Value to Business, GEMI, Washington DC, 1998
Global Environmental Management Initiatives, Environment Value to The Top Line, GEMI, Washington DC, 2001
Hardjono, T.W., Ten Have, S., Ten Have, W.D., The European Way to Excellenc: How 35 European Manufacturing, Public & Services Organization Made Use of Quality Management, Directorate-General III Industry & European Commission, 1996
Haveman, Mark; Dorfman, Mark, Breaking Down the Green Wall: Early Efforts at Integrating Business and Environment at SC Johnson, Corporate Environmental Strategy Article, vol. 6, no. 1, Elsevier Science Inc., Winter 1999

UNTUK VERSI LENGKAP (TULISAN + GAMBAR + EDIT + RAPI)
SILAHKAN DATANG KE WARNET GADIS.NET
SIMPANG SMPN 1 SITIUNG, DHARMASRAYA
08777-07-33330 / 0853-6527-3605 

1 Response to "Makalah Tentang Konsep Dasar Manajemen Lingkungan Lengkap"

  1. Mulai sekarang ayo wujudkan lingkungan yang hijau dan mari kita jaga bersama.

    Info lebih lanjut, silahkan kunjungi http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete