Warnet gadisnet

Warnet gadisnet
loading...
loading...

Orang Jepang, Kebiasaan Remaja Orang Jepang, Kebiasaan Dalam Keluarga, Membedakan Nama Keluarga dan Nama Asli, Gaya Asuh Anak, Nama-Nama Panggilan Dalam bahasa Jepang, Kebiasaan Anak-Anak Jepang, Perbedaan Mencolok Antara Budaya Jepang dengan Indonesia, Aturan dalam keluarga Jepang, Kehidupan Keseharian di Jepang

Keluarga di Jepang
Orang jepang termasuk pekerja keras hal ini ditinjau dari jumlah jam kerja orang jepang yang masih di atas jam kerja negara-negara lain pertahunnya. Orang Jepang jarang sekali yang pulang lebih awal mereka selalu pulang kerja lebih lama ketika jam kerja semakin cepat pulang kerja merupakan hal yang memalukan berarti dirinya tidak banyak dibutuhkan oleh perusahaan dan jika semakin lama pulang kerja berarti orang tersebut sangat dibutuhkan oleh perusaannya.
Kebisaan baik selanjutnya yaitu orang jepang selalu tepat waktu dalam bekerja yaitu selalu datang lebih awal dan pulang terakhir. Maksudnya orang jepang memiliki tradisi malu jika melakukan kesalahan, kekalahan, atau kegagalan. sehingga orang jepang memiliki semangat yang tinggi, teliti, selalu berhati-hati dan pantang menyerah. Orang jepang selalu berdisiplin dalam melakukan segala hal dengan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan kebiasan orang jepang sangat menghormati orang lain bisa dilihat dari kebiasaan orang jepang ketika bertemu dengan orang lain selalu memberikan salam penghormatan dengan menundukan badan.
Pola hidup mereka yang baik membuat orang Jepang panjang umur dan lebih sehat. Seperti yang dikutip dari Self, berikut beberapa kebiasaan sehat para orang Jepang yang bisa ditiru.http://www.warnetgadis.com/
1.      Makan Rumput Laut
Rumput laut merupakan salah satu bahan utama masakan orang Jepang. Secara haraviah, rumpu laut mengandung multivitamin yang berisi potasium, kalsium, magnesium, besi, yodium vitamin C, serat dan bea karoten.

2.      Makan Ikan
Sudah menjadi kebiasaan orang Jepang untuk mengonsumsi ikan tuna, makarel dan salmon. Ketiganya dipercaya mengandung asam lemak omega-3, yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker payudara.
3.      Minum Teh Hijau atau Ocha
Menurut penelitian, orang yang minum enam cangkir teh dalam sehari memiliki risiko 36 persen lebih rendah terkena penyakit jantung. Kandungan antioksidannya juga dapat mengurangi risiko osteoporosis dan kanker.
Sejumlah penelitian juga mengatakan bahwa senyawa kimia EGCG dan antioksidan catechin yang ditemukan dalam teh hijau, bisa mempercepat metabolisme tubuh manusia. Metabolisme merupakan proses mengubah nutrisi makanan dan kalori menjadi energi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktivitas.
Jika metabolisme tubuh seseorang meningkat, maka akan lebih mudah baginya untuk menurunkan berat badan. Teh hijau juga bisa mengurangi hingga 70 kalori sehari. Menyeduh teh hijau sebaiknya dengan air bersuhu 85 derajat Celsius, selama dua sampai tiga menit.
4.      Makan Secara Perlahan
Di Jepang, setiap orang diajarkan unuk menikmati makanan setiap gigitannya. Mengapa makan secara perlahan baik untuk kesehatan? Hal itu karena otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menyatakan bahwa perut sudah kenyang.
5.      Hindari Makan di Piring Besar
Orang Jepang terbiasa makan dengan piring dan mangkuk kecil. Penggunaan sumpit juga membuat orang Jepang makan lebih dikit dan perlahan. Kebiasaan memilih tempat makan mungil dipercaya bisa bantu mengontrol porsi makan seseorang.
6.      Temukan Zen
Olahraga orang Jepang biasanya menggabungkan dua faktor, yaitu fisik dan mental. Kegiatan seperti yoga dan meditasi terbukti dapat mengurangi stres dan menangkal dimensia (pikun) serta melatih konsentrasi10 Budaya Jepang yang Patut ditiru

Kebiasaan Remaja di Jepang
1.      Berkaraoke (カラオ)
Banyak juga yg mengisi waktu senggang dengan berkaraoke bersama teman-teman. Berkaraoke untuk siswa SMA di Jepang merupakan hal yg biasa dan biayanya terjangkau. Tempat karaoke bisa juga menjadi tempat mereka berbincang-bincang.
Jika tidak mempunyai acara, untuk mengisi waktu senggang, para siswa Jepang biasanya menghubungi temannya untuk mengobrol tentang sekolah, film, toko yg terkenal, dsb.

2.      Belajar (学びま)
Bagi orang-orang Jepang, belajar itu tak mengenal tempat dan umur. Tak peduli apa mereka sedang di perjalanan ataupun di tempat umum.

3.      Membuat Klub / Organisasi Sosial (社会組)
Selain belajar, para orang-orang tua ini juga mendirikan klub/ organisasi sosial untuk membantu orang lain yang membutuhkan secara ikhlas (contohnya menyeberangkan anak-anak sekolah di jalan, atau membantu para mahasiswa/pasangan mahasiswa mendapatkan pekerjaan, mengajarkan bahasa Jepang secara gratis kepada orang asing, menemani orang sakit / orang tua dengan sukarela. Disekitar kampus ane mereka juga mendirikan organisasi untuk pertukaran budaya.

4.      Travelling ()
Dengan adanya sistem pembayaran pensiun / tunjangan kepada para orang tua di Jepang, maka mereka dapat tenang menghabiskan masa tuanya dengan menikmati tunjangan/ pensiun yang diberikan oleh negara. Dari Survey yang ane lakukan, 91% orang-orang Jepang ini pernah jalan-jalan ke luar negeri. Orang Indonesia bagaimana ya?

Jika tidak mempunyai acara, untuk mengisi waktu senggang, para siswa Jepang biasanya menghubungi temannya untuk mengobrol tentang sekolah, film, toko yg terkenal, dsb.

5.      Bersepeda (自転)
Sepeda merupakan alat transportasi yang murah meriah di Jepang, bahkan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah mobil dan sepeda motor pribadi.
Selain berjalan kaki, siswa sekolah juga banyak yang ke sekolah menggunakan sepeda. TIDAK ADA siswa sekolah (SD, SMP dan SMA) yang bawa sepeda motor apalagi mobil.
Hal itu sangat dilarang keras oleh pihak sekolah, meskipun untuk membuat SIM sepeda motor 50 cc atau yang disebut Gentsuki persyaratannya minimal usia 17 tahun (Prefektur Gifu). 

Kebiasaan dalam keluarga di Jepang
Orang jepang selalu terlihat misterius. Mereka biasanya jarang tersenyum, kaku dan terlihat sering saling tingkah. Mengetahui ada apa dibalik kebiasaan yang sering dilakukan mungkin dapat sedikit menyibak kemisteriusannya. Kimono, sumo, sumpit dan sake adalah empat hal yang selalu berkaitan dengan Jepang. Ketiga hal itu juga banyak mempengaruhi cara hidup mereka.

Kimono misalnya, baju tradisional ini ternyata bukan sekedar penutup tubuh. Banyak falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Mengenakan kimono tidak boleh sembarang. Ada aturan baku yang harus diikuti. Tidak hanya itu, banyak hal unik yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan hal-hal tersebut.
Sumpit                                                                                                            
Sumpit tidak bisa dipisahkan dalam tata cara makan. Sebagian besar orang Jepang akan mematahkan sumpitnya menjadi dua bagian selesai makan. Menurut adat, apabila sumpit tidak dipatahkan, mereka akan terserang suatu penyakit akibat makanan tersebut. Namun, saat ini tradisi tersebut hanya dilakukan saat bersantap di restoran. Untuk bersantap di rumah, setiap anggota keluarga menyimpan sendiri sumpit masing-masing. Bertukar sumpit tabu dilakukan karena dapat dianggap membawa sial.
Sumo
Kita mungkin bertanya mengapa pemain Sumo selalu berbadan gendut dan besar. Memang , syarat utama pemain Sumo adalah, lelaki dengan struktur tulang besar, dan mampu dan mau menambah berat badannya. tidak semua pemain sumo besar sejak kecil. Malah, banyak yang menjadi besar dan gendut setelah masuk pelatihan khusus. Ketika seseorang sudah diterima sebagai pemain sumo, ia harus mampu menjaga “kebesaran” badannnya.
Sake
Minuman tradisional ini harus diminum dalam cangkir yang kecil. Hal ini berkaitan dengan tradisi Jepang Kuno. Nenek moyang mereka selalu makan dengan tempat yang terbuat dari kulit kerang besar. Sedangkan kulit kerang kcil digunakan sebagai cawan air. Maka, saat ini minuman harus selalu ditempatkan di wadah kecil. Sedangkan makanan dalam wadah yang lebih besar. Setiap orang yang hendak minum, harus menuangkannya untuk temannya terlebih dulu. Pada acara minum, pantang menuangkannya untuk diri sendiri.


Membedakan Nama Keluarga dan Nama Aslinya Orang Jepang
Sebelum zaman Meiji (1868-1912), penggunaan nama keluarga adalah sesuatu yang jarang dilakukan kecuali oleh keluarga samurai, bangsawan, pedagang, dan pekerja seni. Rakyat jelata yang menjadi mayoritas masyarakat pada saat itu ditunjukkan oleh nama pemberian mereka dan wilayah tempat mereka berasal. Selama berlangsungnya zaman Meiji, pemerintah bakufu dengan pengesahan dari Tenno Meiji menjadikan penggunaan nama keluarga ini wajib bagi setiap orang dan mereka harus memilih nama keluarga dari daftar huruf kanji yang belum disahkan seperti sekarang
Mayoritas nama keluarga Jepang terdiri dari satu atau dua kanji yang sebagian besar merupakan petunjuk geografis seperti sungai (kawa), gunung (yama), atau hutan (mori) juga kata sifat yang menggambarkan sesuatu yang mudah dihafal seperti kanji satu (ichi), kecil (koba), atau bambu (take). Nama keluarga muncul dengan beragam frekuensi di beberapa daerah; contohnya, nama keluarga Chinen (知念), Higa (比嘉), dan Shimabukuro (島袋) sangat umum di Okinawa tapi tidak di daerah; sebagian besar karena perbedaan bahasa dan budaya antara orang Yamato (kelompok etnis asli dominan di Jepang) dan orang Okinawa. Di Jepang, memanggil seseorang dengan nama keluarga bahkan di antara teman menjadi sebuah kebiasaan. Sama ketika menulis nama seseorang, nama keluarga selalu disimpan sebelum nama pemberian (nama depan). Banyak orang Jepang yang tersinggung ketika nama depan dan nama belakang mereka dipertukarkan seenaknya.
Berdasarkan Kamus Nama Keluarga Jepang (日本苗字大辞典) yang dikeluarkan Juli 1996, terdapat 291.129 nama keluarga yang berbeda di Jepang. Jika nama-nama keluarga tersebut dilafalkan atau dilatinkan sama tapi ditulis dengan huruf kanji yang berbeda maka dihitung sebagai nama keluarga yang berbeda pula, dari sini dipercaya terdapat kira-kira 300.000 nama keluarga di Jepang. Sepuluh nama keluarga dipakai sekitar 10% populasi, dan 7000 nama keluarga yang paling sering dipakai melingkupi lebih dari 96%. Sedangkan, 100 nama keluarga yang paling sering digunakan di bawah melingkupi hampir satu pertiga populasi.
Nama Jepang modern terdiri dari nama keluarga, diikuti oleh nama panggilan,m nama tengah tidak dikenal di Jepang. Setelah nama gelar seperti san, mirip dengan tuan atau nyonya, atau sensei, mirip dengan Dokter atau Guru, juga digunakan. Dalam bahasa Indonesia, setara dengan sebutan Bapak atau Ibu atau Dokter. Contoh: Tanaka-san, bisa berarti Bapak Tanaka, atau Ibu Tanaka, atau Saudara Tanaka. Gelar ini digunakan untuk memanggil orang lain, bukan diri sendiri. Misalnya jika seseorang bernama Budi, seyogyanya jangan memperkenalkan dirinya sebagai 'saya Budi-san' sebab nanti akan ditertawakan.
Nama keluarga Jepang harus ditulis dalam aksara Kanji, tidak ada nama keluarga Jepang yang tidak mempunyai Kanji. Nama panggilan juga biasanya ditulis dalam aksara Kanji meskipun tidak selalu. Ada juga orang Jepang yang menggunakan huruf hiragana atau katakana saja untuk nama panggilannya. Suatu tulisan kanji dari sebuah nama dapat memiliki beberapa kemungkinan pengucapan. Nama Jepang biasanya juga mempunyai marga seperti halnya nama Tionghoa.
Bahasa Jepang menggunakan sufiks yang luas ketika menyebut atau memanggil orang. Gelar kehormatan ini adalah gender-netral dan dapat digunakan baik pada nama pertama atau nama keluarga.
Ketika memanggil atau menyebut seseorang dengan nama dalam bahasa Jepang, suatu akhiran kehormatan biasanya ditambahkan dibelakang nama. Tidak menggunakan gelar kehormatan - atau disebut yobisute mengindikasikan bahwa ada hubungan intim dan biasanya digunakan untuk pasangan, anggota keluarga yang lebih mudah, sahabat dekat, meskipun dalam tim olahraga atau sesama teman kelas hal ini bisa dimaklumi dengan memanggil nama keluarga saja tanpa gelar kehormatan tersebut. Ketika menyebutkan orang ketika, gelar ini digunakan kecuali saat menyebutkan anggota keluarga sendiri saat berbicara kepada bukan anggota keluarga, atau saat menyebutkan anggota dari perusahaan sendiri saat berbicara pada pelanggan atau seseorang dari perusahaan lain. Gelar kehormatan tidak digunakan untuk diri sendiri, kecuali jika bersikap sombong (lihat ore-sama, dibawah), merasa imut (lihat chan), atau saat berbicara pada anak kecil, untuk mengajari berbicara sopan dengan orang lain saat menyebut nama.

Gaya Asuh Anak di Jepang
Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga berbeda dan unik. Inilah cerita Tai Horikawa, warga negara Jepang tentang perannya sebagai Ayah bagi Hana Horikawa (5) dan Sora Horikawa (2), dan pola asuh yang diterapkan di keluarganya.
Menjadi ayah berarti mendapat  tanggung jawab lebih dan kehilangan kebebasan. Ini fase yang sangat penting sebagai laki-laki. Saya merasakan ikatan dan rasa saling tergantung dalam sebuah kelompok. Hal yang paling menakjubkan adalah saya  bisa belajar banyak dari anak saya.
Saya merasakan cinta yang tulus pada anak. Di luar rumah, Saya adalah "orang bisnis" yang sangat perhitungan ketika berhubungan dengan klien. Tapi dengan anak, semua pemberian saya tanpa menuntut balas. Kalau dibalas saya  senang dan bersyukur, kalau tidak juga tak masalah.
Ada cuti melahirkan untuk ayah di Jepang, jadi tidak hanya ibu yang punya hak cuti. Lamanya tergantung kebijakan perusahaan. Biasanya satu sampai dua bulan. Ibu  berhak mengambil cuti satu tahun setelah anak lahir dan bisa kembali bekerja seperti biasa. Meski begitu, jarang lelaki Jepang mengambil hak cuti untuk mengurus anaknya karena etos kerja yang tinggi.
Weekdays bagi saya adalah bekerja, sementara anak-anak bersama ibunya. Saat weekend adalah waktu yang saya manfaatkan semaksimal mungkin. Kami  makan bersama di restoran, jalan-jalan ke pusat rekreasi seperti Taman Mini Indonesia Indah atau Taman Safari.  Di Indonesia, istri saya, Tomoko, tidak bekerja, sementara di Jepang, ia bekerja. Di Jepang, anak kami titipkan di daycare. Biayanya  mahal tapi ada bantuan dari pemerintah. Di Jepang, karena istri saya bekerja, kami berbagi tugas untuk  menjaga anak kami. Di Indonesia tugas istri saya untuk menjaga anak.
Soal mengajarkan disiplin, Saya ayah yang fleksibel. Kalau anak-anak biasanya tidur jam 8, tidak apalah  ia tidur lebih malam saat weekend atau saat kami berkunjung ke rumah teman atau kerabat. Ketika anak paham diajak bicara, saya jelaskan padanya mengapa aturan dibutuhkan.   Di Jepang, orang yang merasa belum makmur harus menerapkan disiplin keras pada diri dan keluarganya. Tapi bila ia sudah merasa berkecukupan, ia akan lebih fleksibel.
Ada tipe keluarga yang membiasakan bayi mereka tidur sendiri sejak lahir. Tidak dengan keluarga kami. Saya dan istri bertiga tidur dengan bayi di satu kasur. Menurut saya itu bisa memperkuat bonding antara orangtua dengan anak. Saya tidak pernah bangun malam, istri saya yang bangun malam. Sampai anak agak besar, dia pindah ke tempat tidurnya sendiri tapi masih satu kamar dengan kami.  Anak ke dua tidur bertiga dengan kami juga. Di Jepang, anak mendapat  kamar sendiri ketika usianya 6 tahun.
Saya punya cara sendiri menghadapi tantrum anak. Saat anak ngamuk, Saya biarkan dia marah sampai puas, setelah itu saya bantu menenangkannya dengan mengalihkan perhatian pada hal lain. Ketika dia memaksa meminta sesuatu  sampai menangis, saya lihat dulu apakah ia benar-benar sangat menginginkannya. Akan saya pertimbangkan kalau ia memang benar-benar menginginkannya dan menunjukkan usaha sampai dapat. Menurut saya, tantrum atau marah cara anak berekspresi.
Kami punya kebiasaan penting di meja makan. Sejak dini anak-anak dibiasakan untuk mengucapkan terima kasih dan hormat pada makanan yang disajikan. Sebelum makan kami mengucapkan "itadakimasu" dan saling membungkuk. Selesai makan kami mengucapkan "gochisousamadeshita." Itu adalah ungkapan terima kasih kepada orang yang telah membuat makanan  sampai tersaji dengan rasa yang lezat. Anak perempuan saya, Hana, biasanya ikut membantu ibunya mengatur meja. Ia senang sekali meniru apa yang dilakukan ibunya. Jika ada anak atau orang lain yang tidak sopan dengan makanan di meja ia akan diberi peringatan. Jika tidak mendengarkan dia akan dihukum dengan tidak diberikan dessert setelahnya.

Nama-Nama Panggilan dalam Bahasa Jepang
MEMANGGIL SAUDARA YANG SEKANDUNG
·        (ワンちゃん) One-chan        : Kakak perempuan
·         (お兄ちゃん) Onii-chan        : Kakak laki-laki
·        (お母さん) Okaa-san            : Ibu / Mama
·         (お父さん Otou-san             : Ayah / Papa
·        (おじいちゃん) Ojii-chan     : Kakek
·        (大場ちゃん) Obaa-chan      : Nenek
·         (王子ちゃん) Oji-chan         : Paman
·         (おばちゃん) Oba-chan       : Bibi
·         (くん) -kun                           : Adik laki-laki
·         (ちゃん) -chan                      : Adik perempuan


MEMANGGIL SAUDARA YANG TIDAK SEKANDUNG
·        (お姉さん) Onee-san             : Kakak perempuan (milik orang lain)
·        (お兄ちゃんさん) Onii-san : Kakak laki-laki (milik orang lain)
·        (お母さん) Okaa-san            : Ibu (milik orang lain)
·        (お父さん) Otou-san             : Ayah (milik orang lain)
·        (おじいさん) Ojii-san           : Kakek (milik orang lain)
·        (おばさん) Obaa-san            : Nenek (milik orang lain)
·        (おじさん) Oji-san                : Paman (milik orang lain)
·         (大場さん) Oba-san             : Bibi (milik orang lain)
·         (おいさん) Otouto-san         : Adik laki-laki (milik orang lain)
·        (妹さん) Imouto-san : Adik perempuan (milik orang lain)

MACAM-MACAM PANGGILAN UNTUK SESEORANG
·        (nama)-sama               : Peringkat paling tinggi. Dipakai untuk orang yang lebih tua/lebih tinggi derajatnya
·         (nama)-dono              : Setingkat dibawah -sama, tapi juga menandakan rasa hormat
·         (nama)-sensei             : Guru/Dokter
·         (nama)-sempai           : Senior
·         (nama)-san                : Untuk normal, biasanya buat yang baru ketemu/belum akrab
·         (nama)-chan               : Untuk anak kecil atau orang yang udah akrab
·         (nama)-kun                : Untuk laki-laki
·         (nama)-han                 : Normal untuk logat kansai (Kalau tidak salah)

KATA GANTI ORANG
·        (わたくし) Watakushi           : Saya (Sangat formal)
·         (わたし) Watashi                  : Saya (Formal)
·        (アタシ) Atashi                      : Aku (Perempuan), Kesannya perempuan kalem
·        (ぼく) Boku                           : Aku (Laki-laki)
·        (鉱石) Ore                             : Gue/Aku (Gaul)
·        (ぼくたち) Bokutachi            : Kami
·         (ぼくら) Bokura                   : Mereka
·         (キミ) Kimi                           : Kamu (Biasa)
·         (アナタ) Anata                     : Kamu (Penggunaan yang satu ini harus hati-hati!)
·         (大前) Omae                         : Kau! (Sangat kasar)
·         (わたしたち) Watashi-tachi: Kami
·         (アナタ - 太刀) Anata-tachi : Kalian
·        (あいつ) Aitsu                        : Dia ~ (カレー) Kare : Dia laki-laki
·         (な彼女) Kanojo                   : Dia perempuan
·         (あいつ、舘) Aitsu-tachi      : Mereka

Tambahan : Semua kata subjek (Watashi/Ore/Boku/Kimi/Anata dan lain-lain) ditambahkan (Saya, Kamu, dan lain-lainnya) berarti jamak.
Contohnya:
·        (わたしたち) Watash-itachi    : Kami
·        (アナタ - 太刀) Anata-tachi     : Kalian
Pemakaian kata ganti di atas harus lihat situasi dan kondisi. Perhatikan lawan bicara, berkata tuturlah yang baik dan sopan kepada orang yang lebih tua



Kebiasaan Anak-Anak Jepang
Bangun pagi, kemudian dilanjutkan dengan mandi, ibadah, sarapan pagi dan kemudian memakai seragam dan berangkat sekolah. Bel sekolah biasanya pukul setengah 7 pagi hingga setengah 8. Lalu dimulailah proses kegiatan belajar mengajar. Menjelang siang hari, kurang lebih jam 10 pagi, biasanya istirahat selama 30-45 menit, setelah itu proses kegiatan belajar mengajar dimulai lagi hingga siang dan bel pulang sekolah berdering ketika siang hari.
Begitulah aktivitas rutin sekolah di Indonesia, untuk libur sendiri biasanya setelah masa-masa ujian atau libur hari raya. Kami yakin bahwa Anda pernah mengalami masa-masa seperti ini dan saat ini rutinitas seperti itu dialami oleh buah hati Anda bukan?
Pernahkah Anda berpikir bahwa kebiasaan dan rutinitas seperti itu tidak dialami oleh sekolah di negara lain? Bahkan di tiap negara tentu berbeda aktivitas serta rutinitasnya dalam bersekolah, pengen tau bagaimana detailnya? Dalam artikel ini kami merangkum beberapa rutinitas sekolah di Jepang.
Sekolah Berjalan Kaki
Pernah menyaksikan serial Doraemon? Jika iya, tentu pernah menyaksikan si Nobita bangun kesiangan, dan buru-buru ke sekolah. Tak pernah sekalipun Anda mendapati Nobita ke sekolah naik mobil bukan? Termasuk Suneo, walaupun dia kaya raya, dia ke sekolah dengan berjalan kaki.
Ya, begitulah negara Jepang. Untuk jenjang SD-SMP sekolah ditentukan oleh Pemerintah di sana. Orang tua harus mendaftarkan anaknya bersekolah di Balai Kota, nah Pemerintahnya lah yang menentukan di mana anak tersebut nantinya bersekolah. Jarak antara rumah dan sekolah menjadi salah satu faktor penentu, dan anak wajib berjalan kaki ke sekolah, tidak terlalu jauh, jadi tidak ada tuh macet akibat orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah.
Tidak Ada Sekolah Favorit
Dengan diaturnya anak bersekolah di mana, artinya tidak ada sekolah favorit. Semua sekolah rata, tidak ada para orang tua rebutan cari sekolah favorit untuk anaknya.
Tidak Berseragam dan Tidak Ada Upacara Bendera
Di Jepang juga tidak perlu upacara sekolah, tapi soal nasionalisme anak-anak Jepang jangan ditanya. Di SD juga anak-anak tidak perlu memakai seragam sekolah, kecuali pada saat pelajaran olah raga saja. Tetapi hal ini sepertinya tidak berlaku di semua sekolah.
Tas Sekolah yang Sama
Ingat dengan tas Nobita? tas punggung berbentuk kotak dan berwarna hitam? Kira-kira gambarnya seperti gambar di bawah ini.
Percaya tidak percaya, untuk jenjang SD semua muridnya memiliki tas seperti gambar di bawah ini, Yang membedakan hanyalah warnanya, biru dan hitam untuk laki-laki, serta untuk anak perempuan bisa warna-warni. Uniknya lagi, tas seperti ini harganya mahal lho, sekitar 3000 yen atau jika dirupiahkan kira-kira 3,5 juta rupiah. Wow! Meski mahal, tas ini bergaransi selama 6 tahun dan hanya sekali pakai, tidak bisa diwariskan ke adiknya nanti. Artinya tas ini akan dipakai selama anak duduk di bangku SD. Unik ya? Jadi bisa dibayangkan, tidak akan terjadi beli membeli tas setiap tahun pelajaran baru seperti kebiasaan di Indonesia.
Waktu Pembagian Jam Pelajaran
Jam pelajaran SD dimulai pada jam 8 sampai jam 4 sore. Mata pelajarannya hanya Matematika, Bahasa Jepang, Seni, Olah Raga dan Lifeskill. Dari kelas 1 SD sampai kelas 2 SD, pelajaran Matematika hanya berkutat pada penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, ini terus diulang terus menerus hingga paham. Sementara untuk pelajaran Bahasa Jepang, ditargetkan untuk menghafal huruf Kanji. Dan untuk pelajaran IPA, murid langsung terjun ke alam.
Buku Project
Saat liburan musim panas (selama  45 hari), semua murid diwajibkan membaca dan menyelesaikan satu bukuproject. Project ini kemudian wajib dibuat dan itu dinilai sebagai tugas sekolah

Tidak Boleh Membawa Gadget
Walaupun Jepang termasuk negara yang canggih, namun murid di sekolah dilarang membawa gadget. Bentuk komunikasi dari keluarga ke anak yang berada di sekolah ketika sewaktu-waktu ingin menghubunginya semua lewat satu pintu, yakni sekolah. Ini termasuk salah satu bentuk kesederhanaan negara Jepang selain berjalan kaki ke sekolah tadi.
Nah, itulah berbagai kebiasaan unik sistem pendidikan di Jepang, banyak yang bisa kita ambil dari Negara ini ternyata.

Perbedaan Mencolok Antara Budaya Jepang dengan Indonesia
1. Ketika di kendaraan umum:
Jepang: Orang-orang pada baca buku atau tidur.
Indonesia: Orang-orang pada ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, dan tidur.

2. Ketika makan dikendaraan umum:
Jepang: Sampah sisa makanan disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemu tong sampah.
Indonesia: Dengan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang gitu aja di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.

3. Ketika dikelas:
Jepang: Yang kosong adalah bangku kuliah paling belakang.
Indonesia: Yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.

4. Ketika dosen memberikan kuliah:
Jepang: Semua mahasiswa sunyi senyap mendengarkan dengan serius.
Indonesia: Tengok ke kiri, ada yang ngobrol. Tengok ke kanan, ada yg baca komik. Tengok ke belakang, pada tidur. Cuma barisan depan aja yang anteng dengerin, itu pun karena duduk pas di depan hidung dosen!

5. Ketika diberi tugas oleh dosen:
Jepang: Hari itu juga siang atau malemnya langsung nyerbu perpustakaan atau browsing internet buat cari data.
Indonesia: Kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!

6. Ketika terlambat masuk kelas:
Jepang: Memohon maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu dan menyesal gak akan mengulangi lagi.
Indonesia: Slonong boy & slonong girl masuk gitu aja tanpa bilang permisi ke dosen sama sekali.

7. Ketika dijalan raya:
Jepang: Mobil sangat jarang (kecuali di kota besar). Padahal jepang kan negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya pada ke mana ya?
Indonesia: Jalanan macet, sampai-sampai orang susah nyebrang & sering keserempet motor yg jalannya ugal-ugalan.

8. Ketika jam kantor:
Jepang: Jalanan sepiiiii banget, kayak kota mati.
Indonesia: Ada Oknum pake seragam coklat2 pada keluyuran di mall-mall.

9. Ketika buang sampah:
Jepang: Sampah dibuang sesuai jenisnya. Sampah organik dibuang di tempat sampah khusus organik, sampah non organik dibuang di tempat sampah non organik.
Indonesia: Mau organik kek, non organik kek, bangke binatang kek, semuanya tumplek jadi satu dalam kantong kresek. (make it simple hahahaa)

10. Ketika berangkat kantor:
Jepang: Berangkat naik kereta/bus kota. Mobil cuma dipakai saat acara liburan keluarga atau acara yang bersifat mendesak aja.
Indonesia: Gengsi dooonk... Masa naik angkot?!

11. Ketika janjian ketemu:
Jepang: Ting...tong... semuanya datang tepat pada jam yg disepakati.
Indonesia: Salah satu pihak pasti ada dibiarkan sampai berjamur & karatan gara-gara kelamaan nunggu!

12. Ketika berjalan dipagi hari:
Jepang: Orang-orang pada jalan super cepat kayak dikejar doggy, karena khawatir telat ke tempat kerja atau sekolah.
Indonesia: Nyantai aja cyinn...! Si boss juga paling datangnya telat!

Aturan dalam keluarga Jepang
1.      Orang jepang terkenal dengan Tata Krama dan kesopanannya. kita bisa melihat mereka mengeluarkan “sisi liarnya” dalam 2 kondisi yaitu: ketika mereka mabok dan ketika mereka sedang berlarian masuk ke dalam kereta yang udah mau berangkat.
2.      Di Jepang angka 4 dan 9 sangat di benci , karena 4 di baca "shi" yang arti nya "mati" dan 9 yang di baca "ku" yang arti nya sengsara dan alasan itu juga mengapa Nokia tidak mengeluarkan Symbian 4th edition . Dari Symbian 3rd edition langsung meloncat ke Symbian 5th edition.
3.      Orang Jepang menyukai angka "8". Harga-harga barang kebanyakan berakhiran "8". misalnya susu dengan harga 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkansudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. Pasar Yaoya tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800.
4.      Seseorang boleh membonceng dengan sepeda apabila umur nya sudah di atas 16 tahun lalu tidak boleh membonceng seseorang dan kalau pun boleh , yang di bonceng itu di bawah 1 tahun , jika melanggar dapat di denda 20 ribu yen.
5.      Taxi di Jepang biasa nya yang membuka dan menutup pintu adalah Supir , sedangkan penumpang tidak di perbolehkan untuk membuka dan menutup pintu taxi.
6.      Sama dengan orang Indonesia, Orang Jepang mengumbar kata “cinta“. jadi untuk menyatakan perasaan sayang mereka memakai kata “suka”. cinta bermakna lebih dalam dan dipake ketika sudah menikah dll.
7.      Di Jepang , salah satu cara minta maaf yang paling tepat adalah bunuh diri , tidak heran banyak tentara Jepang yang mati bunuh diri karena kalah perang.
8.      Di Jepang kebanyakan orang nya tak beragama/atheis , tetapi walaupun atheis , mereka sangat mematuhi peraturan yang berlaku.
9.      Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang berbau seram (horror).
10.  Di Jepang siswa dari kelas satu sampai enam pendidikan dasar (SD) harus belajar etika dalam berurusan dengan orang.

Kehidupan Keseharian di Jepang

1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.


3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.

5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.



6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini.

7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).

8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga


UNTUK VERSI LENGKAP (TULISAN + GAMBAR + EDIT + RAPI)
SILAHKAN DATANG KE WARNET GADIS.NET
SIMPANG SMPN 1 SITIUNG, DHARMASRAYA
08777-07-33330 / 0853-6527-3605 

0 Response to "Orang Jepang, Kebiasaan Remaja Orang Jepang, Kebiasaan Dalam Keluarga, Membedakan Nama Keluarga dan Nama Asli, Gaya Asuh Anak, Nama-Nama Panggilan Dalam bahasa Jepang, Kebiasaan Anak-Anak Jepang, Perbedaan Mencolok Antara Budaya Jepang dengan Indonesia, Aturan dalam keluarga Jepang, Kehidupan Keseharian di Jepang"

Post a Comment