Warnet gadisnet

Warnet gadisnet
loading...

Asal Usul Pulau Gilo Dharmasraya

Pada zaman dahulu di nagari Tiumang, Kecamatan Tiumang, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat terdapat sebuah kampung yang dihuni oleh seorang yang bersuku melayu. Orang kampung melayu ini banyak disegani oleh kampung-kampung lain karena mereka terkenal dengan keramahannya. Disamping itu mereka juga suka membantu orang yang kesulitan dalam segala hal, baik dari segi materi, fisik, moril maupun hal-hal yang lain.
            Waktu itu di suku melayu ada dua orang kakak beradik yang akur, baik ramah, ceria orangnya. Kakak beradik ini memiliki hobi yaitu menangkap ikan, yang sulung bernama Ninik Timbang, sedangkan adiknya bernama Ninik Banjau. Mereka sangat suka dan sering mencari ikan di batang hari Tiumang, bahkan hampir setiap hari mereka kesana untuk memancingnya. Bahkan hampir setiap orang di nagari Tiumang membeli dan memakan ikan hasil tangkapan mereka, dan kakak beradik ini sangat terkenal dan disanjung masyarakat Tiumang oleh keramahannya berjualan.
            Suatu hari, setelah mereka pulag dari batang hari mereka bertemu dengan seorang nenek yang biasa membeli ikan hasil tangkapan mereka. Mereka menyangka sang nenek tersebut ingin membeli ikan mereka, ternyata setelah ditanya.
            “Beli ikan nek?” Tanya Ninik Timbang.
            “Indak nak, wah… tangkapan kalian hari ini banyak juga ya.” Jawab nenek.
            “Iya, nek. Alhamdulillah.” Kata Niniak Banjau.
            “Apa saja ikan yang berhasil kalian tangkap?” Tanya Nenek.
            “Banyak Nek, ada ikan nila, ikan baung, ikan karamba, ikan gabus.” Niniak Timbang menjawab dengan senang hati dan penuh senyum.

            “Oh, iya… biasanya nenek mebeli ikan kami, mengapa sekarang tidak?” Niniak Banjau kembali bertanya dengan senyum. “oh ya…..biasanya nenek membeli ikan kami mengapa sekarang tidak “ niniak banjau kembali bertanya. Dengan tersenyum “’ tidak cu, ikan yang kemarin masih ada, belum sempat nenek masak’’
Mereka hanya bsia tersenyum mendengarkan perkataan nenek tua itu. Tanpa pikir panjang mereka melangkah denggan semangat menuju kerumah mereka masing-masing. Sebelum menuju halaman rumah , kakak beradik ini sempat berbicang bincang  sejenak. “ uda ayo kita masuk ke dalam rumah , aku sudah tidak sabar mau memasak dan mencicipi masakan ibu “ kata niniak banjau. “ ayo “ jawab niniak timbang ternyata apa yang mereka katakan benar, sang ibu memang menuggu mereka berdua di dapur sembari meracik bumbu-bumbu masakan untuk di masak. “Eh sudah pulang nak “?? “sudah bu. “ jawab mereka berdua.”mana hasil tangkapan kalian. Biar ibu masak “ tanya sang ibu.” Ini bu , oh ya bu. Ikan nya mau ibu apakan, di gulai apa di goreng bu??.
            “Ikannya ibu gulai dan goreng juga nak, soalnya ibu ingin hari ini hari sepesial buat kita karna kalian telah menagkap ikan yang banyak dan hingga membuat kalian lelah . “Wah terimakasih bu, ibu memang sosok perempuan yang baik di dunia ini”. Sang ibu pum tersenyum melihat tingkah kedua anak nya yang manja itu.
Merekapun membantu ibunya memasak di dapur. Tak ada kata malu lagi bagi mereka untuk membantu pekerjaan ibunya apalagi didapur, banyak orang berfikir seharunya pekerjaan dapur itu di kerjakan oleh anak-anak perempuan , tapi mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai saudara perempuan, Sering juga mereka membantu ayahnya pergi ke kebun. Sebab pada umumnya di nagari tiumang penduduknya bermata pencarian berkebun atau mencari ikan di sungai batang hari tiumang. Niniak timbang kebagian bertugas membersihkan kotoran ikan, sedangkan niniak banjau dan sang ibu bertugas menyiapkan peralatan memasak dan memtong motong bahan tambahan yang akan di gulai.http://www.warnetgadis.com/
            Setelah ikan dibersihkan oleh niniak timbang, ibupun segera memasak untuk oramng yang ia sayanginya, siapa lagi kalok bukan ketiga pria yang ada dirumahnya yaitu dua orang putra dan satu orang suaminya.
            Dia memasak dengan sepenuh hatinya untuk suami dan dua anaknya tercintanya.
Keluarga ini hidup dengan dengan sederhana dan mengutamakan keceriaan dan kasih sayang. Hidup rukun dan tidak mempunyai rasa dendam dengan sesama, ketika mereka terhina ataupun tersakiti dan selalu memaafkan kesalahan orang lain,begituah prinsip kehidupan yang mereka jalani setiap harinya.
            Sampai suatu hari , paman niniak timbang dan niniak banjau datang ke rumah mereka, pam,annya baru pulang dari rantau. Tidak hanya itu saja sang paman juga membelikan jalo jalato. “Assalamualaikum” pamannya memberi salam. “Waalaikumsalam, eh paman jawab niniak timbang sambil menyalami pamannya, “iya, dengan siapa kamu dirumah nak”. “sendiri aja paman, ayah,ibu, dan adik pergi ke kebun” kata niniak timbang dengan lesunya menjawab. “lalu kenapa kamu tidak ikut? Biasanya kau tidak kalahnya rajin dengan adikmu, apa kau sedang tidak enak badan” kata pamanya sambil melihat wajah keponakannya. “iya paman, hari ini saya sedang sakit jadi ibu melarang saya untuk ikut” kata niniak timbang kepada pamannya.
“Oh begitu , paman kesini hanya sebentar, hanya untuk bertemu kalian semua. Tapi sayangnya Cuma kamu yang ada di rumah” tutur pamannya dengan agak kecewa

            Niniak Timbang tidak tau kalau kedatangan pamannya keruamh untuk memberikan mereka hadiah. “ini ada hadiah dari paman, jalo jalato untuak kalian menangkap ikan” .
“kalo jalato ini bisa untuk menagkap ikan paman ? tanya niniak timbang penasaran “ kamu cobain saja nanti, pasti banyak ikan yang bisa kamu tangkap”. “siap paman, nanti pasti akan aku coba “jawab niniak timbang dengan semangat. “baiklah paman pergi dulu ya “ kata paman sambil bergegas . “iya paman, walaupun rindu sama pamanya belum terlepaskan. “iya besok kalau paman pulang pasti paman kesini lagi. “jawab paman  “janji ya paman” . “iya iya ,janji Assalam muallaikum” lalu pamannya pun pamitan dan langsung pergi. “waalaikumsallam, hati hati di jalan ya paman, dan terima kasih atas jalo yang paman berikan tadi “ucap niniak timbang sambil mengantaer pamannya ke depan rumah.
Setelah pamannya pergi tanpa berfikir panjang niniak timbang langsung pergi ke batang hari untuk mencoba jalo jalato yang di berikan pamannya tadi. Niniak timbang tidak memikirkan kesehatannya. Sakit yang ia rasakan tadi terasa hilang begitu saja ketika melihat kalo jalato hadiah yang diberikan pamannya. Ia langsung pergi ke sungai batang hari dan mencoba mencari ikan dengan jalo jalato tersebut, dan bahkan sampai lupa diri. Benar kata pepatah pepatah orang tuo, sesuatu yang menghasilkan akan membuat siapa saja menjadi lupa diri. Lupa waktu dan lupa keadaan sekitarnya. Dia juga tidak sadar kalau kepergiannya membuat orang tuanya menjadi cemas menuggu di rumah. Karena kecemasannya sang ayah,ibu,dan niniak banjau pun mencari niniak niniak timbang. Niniak timbang menyadari bahwa matahari tidak memancarkan cahayanya, dan siang pun berganti malam, diapun langsung bergegas pulang. Di dalam perjalanya pulang, niniak banjau berfikir pasti orang tuanya cemas memikirkan dia dengan kondisi yang urang sehat ini.
            Sampai dirumah, niniak timbang langsung memberikan ikan hasil tangkapannya kepada ibunya tanpa memberikan alasan kenapa ia pulang malam. Sebenarnya niniak timbang sudah merasa bersalah atas apa yang dia lakukan hari ini, seharusnya dia beristirahat dirumah karena kondisinya yang tidak sehat, dan kalau pun pergi dia hendaknya minta izin dulu kepada orang tua dan adiknya juda. Tapi niniak timbang langsung pergi begitu saja tanpa memberitahu pada siapapun. Ia tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah dia melakukan perbuatannya. “Apa ini? Dari mana saja kamu, ngak biasanya kamu pulang malam begini “ kata ibunya dengan suara agak tinggi,
            “oh, ibu ,…..,…..ni ikan bu, saya habis dari sungai bu, biasa memancing ikan, banyak lho bu ikan nya coba bu lihat saja” jawab niniak timbang agak terbata-bata. Sang ayahpun langsung menyambar “Tapi kamu sedang sakit nak”. “iya ayah saya tau, justru memancing di sungai itu bisa membuat penyakit saya hilang yah. Oh iya yah…..tadi paman datang kesini dan memberi saya jalo jalato ini, aku penasaran untuk mencobanya ,makanya aku pulang malam karena ketagihan yah” jawab niniak timbang dengan jujur. “Apa ?? paman kesini ? kok uda tidak menyuruh paman ke kebun untuk menemui kami ? “karna dia terburu buru balik ke rantau karna banyak pekerjaan yang belom selesai katanya “jawab. “Memang jalao jalato itu apa uda”? tanya adiknya dengan muka penasaran. “kalo jalo jalato itu jala untuk menagkap ikan “jawab niniak timbang. “Aapa hebatnya barang itu uda ? besok kita mencari ikan dengan jala iru ya da “kata niniak banjau mengajak kakaknya dengan manis. “hm ,lihat besok kalau aku sudah sehat” ujar nya dengan perasaan tidak suka pada adiknya.http://www.warnetgadis.com/
            Sejak kejadian mal;am itu, timbul rasa tidak rasa senang niniak timbang pada sang adiknya, niniak banjau. Niniak timbang merasa adiknya pasti tidak mau meminjamkan lagi kalau adiknya sudah mencoba jalo jalato itu. Niniak timbang pun merasa bahwa ayah dan ibunya pasti membela adikny, niniak timbang pun menjadi berubah dan tidak seperti biasanya, ia menjadi orang sangat angkuh dan ingi menang sendiri. Niniak timbang tidak mau lagi berbagi pada adiknya niniak banjau yang biasanya mereka akrab dan saling berbagi satu sama lain. Sampai akhirnya di pagi hari niniak banjau bangun dan berkemas kemas hendak pergi memancing bersama kakanya. “ibu kakak dimana “tanya niniak banjau. “kakakmu sudah pergi dari tadi nak “kenapa kaka tidak mengajak aku bu” kata niniak banjau heran. “loh, tadi kakamu berkata bahwa kamu tidak jadi ikut. “sahut ibunya. “kenapa kakak berkata begitu bu, bahkan dia juga tidak membangun kanaku” . niniak banjau pun merasakan ada yang berbeda dari kakaknya tidak seperti yang sebelum sbelumnya, bahkan dulu kemanapun kakanya pergi niniak banjau selalu di ajaknya.”Nak mungkin kakamu tidak tega membangunkanmu, karna kamu kemare kecapekan habis  dari kebun, mungin dia kasihan sama kamu. “kata ibunya sambil membujuk. “tidak bu, tidak mungkin kakak bersikap seperti itu, aku merasakan ada keanehan pada kakak. “jawabnya. “yasudah bu, nanti kalok kaka pulang tolong ibu tanyakan langsung sama dia, ada apa dengannya “ucap niniak banjau,.
            Siang berganti sore, sore berganti senja, niniak timbang belum juga pulang. Sudah berjam jam niniak banjau menuggu sang kakak, dia merasa resah dan ingin tahu mengapa kakanya berubah dan tidak mengajaknya memancing. Karena terlalu lama menanti, dan perasaan heran telah menghantuinya, akhirnya niniak banjau pun pergi menyusuli kakaknya ke sunggai batang hari. Hati niniak banjau pun merasa lega setelah melihat kakaknya datang,dan iapu langsung menanyakan kepada niniak timbang. “uda, kenapa uda tidak mengajak aku memancing ?” tanya niniak banjau dengan sopan. “tidak ada aku hanya ingin memancing sendirian saja”.”tapi muka kakanya seperti menyembunyikan sesewatu. ayo uda,ayolah jujur padaku emang ada apa, uda ada masalah sama aku? Kalau ada ceritalah, aku siap mendengarkan da. ‘tutur niniak banjau memaksa. “baiklah kalau kau memaksa, aku hanya tidak ingin kau memakai jalo jalato ini “ ungkap kakanya. “memangnya kenapa begitu uda, kan ini milik kita, paman yang memberikannya untuk kita berdua” kata niniak banjau penasaran. “kalau kau memakainya, kau pasti tidak akan mau meminjamkannya lagi padaku “ tutur nya berterus terang. “tapi uda”. “ah sudahlah tidak usah banyak omong, aku ingin pulang karna hari sudah larut malam, nanti ibu dan ayah mencemaskan aku “ujar niniak timbang dengan ketus. Niniak banjau pun langsung pulang, dia tidak tau harus berbuat apalagi, dan apa yagn harus di bicarakannya lagi pada kakanya.
            Sampai di rumah, ibunyapun memanggil niniak banjau untuk berbicara. “nak ,apakah kau sudah menanyakan perihal pagi tadi”. Niniak banjau hanya diam dan tidak mau berbicara apapun kepadanya.tak lama kemudian, datang niniak timbang pulang dan memberika ikan pada ibunya tanpa menjelaskan apa pun. Sang ibu tidak bisa berkata apa apa karna dia tahu bahwa anaknya kecapekan sehabis dari batang hari. Maka dari itu ibu pun memilh diam dan membiarkan kedua putanya beristirahat.
            Keesokan harinya, Niniak Banjau pun mencoba mengajak kakanya untuk pergi menagkap ikan seharian. “uda kita menagkap ikan ya aku penasaran bagaimana caranya memakai jalo jalato itu? “ucap Niniak Banjau sembari membujuk kakany. “apa kamu tidak ingat kata kataku kemaren, apa kurang jelas, atau kau tidak punya telinga ya” Niniak Timbang langsung memarahi adiknya. “tapi kan aku inggin mencoba jalo jalato uda, mengapa uda tidak mengizinkan, kita ini kakak beradik uda, jadi kita harus tetap akur agar enak dilihat oleh tetangga. Di tengah perdebatan, ibu mererka pun datang dan menghampiri kedua putranya. “ada apa ini? Mengapa ada keributan di rumah ii “ sambung ibu. “tidak ada apa apa kok bu “niniak timbang menjawab pertanyaan ibunya, “ini bu kakak tidak mau meminjamkan jalo jalato ini kepadakun “sambung Niniak Banju. “sudah ku bilang aku tidak akan meinjamkan jalo itu kepadamu “sambar Niniak Timbang dengan kasar dan keras. “mengapa kau tidak mau meminjamkan kepada adikmu ?? itukan hadiah dari paman utuk kalian berdua, bukan hanya untuk kamu saja timbang “kata ibunya sembari berusaha menegahi pertengkaran kedua putranya. “Aku tidak peduli dan aku tidak mau meminjamkan jalo jalato ini pada dia “jawab Niniak Timbang bersikeras.
            Sejak saat itu Niniak Banjau menjadi murung dan sering keluar rumah lantaran kecewa pada kakanya yang tidak mau meminjamkan jalo jalato kepada dirinya. Sampai detik ini Niniak Banjo tidak menyangka kenapa kakanya tidak mau meminjamkan jalo jalato tanpa alasan yang kuat. Niniak Banjau pun keluar rumah dan pergi menaiki perahu yang biasa dinaiki Niniak timbang. Dia pergi ke suatu pulau yang letaknya berada di tengah tengah sungai batang hari tiumang dimana dia bisa menenagkan pikirannya. Disiti ia memikirkan perkataan kakaknya. Sambil mendayung sampan yang ia duduki tersebut.
            Dirumah, sang ibu mengkhawatirkan Niniak Banjau yang tidak pulang pulang dan tidak tahu kemana tahu kemana pergi putranya itu sampai sampai suaminya di buat pusing oleh ibunya lantaran di desak untuk mencari kemana perginya si Niniak Banjau.
            Sedangkan Niniak timbang hanya bersantai santai, tidak peduli dan tidak memikrkan kemana perginya si Niniak Banjau, dan tidak merasa bersalah terhadap apa yang ia perbuat kepada adiknya. Pada akirnya sang ayah pun meminta tolong kepada Niniak Mamak, Datuak-Datuak suku Melayu untuk mencari anaknya si Niniak Banjau, tetapi mereka tidak tau harus mencari kemana. http://www.warnetgadis.com/
“coba kau tanyakan dulu pada anakmu Niniak Timbang, siapa tau dia tau tempat biasa Niniak Banjau bermain” ? saran salah satu Datuak Melayu. “baik Datuak, akan saya tanyakan langsung pada putra pertamaku “jawab ayah Niniak Timbang. Lalu sang ayah pun menghampiri Niniak Timbang. “Nak kau tau dimana adikmu, apa dia tidak mengabarkan kepadamu kemana dia hendak pergi”. “Tidak yah,si Banjau juga tidak memberi tahu saya kemaan dia hendak pergi “Jawab Niniak Timbang. “Tapikau biasanya pergi bersama-sama, pasti ada tempat kalian berdua untuk bersantai “ayahnya terus mencoba untuk membujuk Niniak Timbang. “kalau tempat bermain dan beristirahat sih ada tapi apa mungkin Niniak Timbang pergi kesana ayah?”, “kesana mana nak , ayo kita kesana “ujar ayahnya dengan memaksa. “ tempatnya mungkin di sungai batang hari itu yah” kata Niniak Timbang memberi tahu ayahnya. “yasudah tunggu apa lagi, ayo ktia kesana mari Datuak “jawab ayahnya dengan cepat.

            Ayah Niniak timbang, Niniak Melayu, dan Datuak Datuak pun segere pergi ke pulau yang dimaksud Niniak Timbang. Mereka bergegas kesana bersama sama kesana mencoba untuk membujuk dan mengajak Niniak Banjau untu pulang. Sesampainya disana, mereka menemukan Niniak Banjau. “Banjau kamu disini nak, kenapa kamu tidak pulang pulang kerumah, emang ada masalah apa nak, ceritakanlah ke ayah nak, bujuk ayah nya dengan penuh iba. Niniak Banjau pun diam dan tidak menggubrus perkataan ayahnya. “Nak , pulang lah nak , apa kau tidak merasa kasian pada ayah dan ibu yang telah mencemaskan dirimu nak, nanti orang tuamu bisa sakit nak, gara-gara terlalu lama memikirkan mu “ujar salah satu Datuak Melayu itu. Tapi setelah mendengar ucapan Datuak Melayu, Niniak Banjau tetap diam seolah olah tidak ada orang yang berbicara di sampingnya. Padahal banyak orang berdiri di sampingnya.
            Akirya sang ibu pun angkat bicara juga “Niniak Banjau, kamu kenapa nak, tidak biasanya  kamu merenung sendirian begini nak, padahal kamu dulunya anak yang periang, ceria, dan cerewet, kalaua da masalh yang sulit diatasi, cerita saja ke kita nak, atau kalau kau tidak mau cerita ke yang lain, kau boleh kok cerita ke ibu…..ayo lah nak, cerita ada apa” .”Kamu sebenarnya kenapa nak, kenapa kamu berubah total seperti ini, kalau ada cerita lah sama siapapun yang kamu mau, kamu ini lagi ada masalah sama siapa “tutur ayah Niniak Banjau. “kalau saya lihat sebaiknya kalian bicaralah dengan cara bermusyawarah dan hati dingin, melhat dari pandangan saya Niniak Banjau ini pasti mempunyai masalah yang sangat berat sekali sehingga membuat dia murung seperti in. “sambar salah satu Datuak Melayu. “nak , dua hari yang lalu si Banjau pernah cerita bahwa akir akhir ini kau jarang mengajak nya ke tempat kalian memancing, atau jangan jangan masalah ini yang membuat Niniak Banjau murung seperti ini , iya kan “kata sang ibu kepada Niniak Timbang. “entah bu, kan yang murung dia, bukan saya ,jadi ibu tanya lagi apa masalahnya “jawab Niniak Banjau ketus. “tukan, kelhatan dari cara menjawab kau itu, kau pasti ada masalah dengan adikmu, ayo jujur “sang ayah mulai emosi. “ayah ini kenapa marah padaku, aku tidak tau apa apa yah, lebih baik ayah urusin si Banjau itu. “Apakah kalian ni bertengkar akibat jalo jalato itu, soalnya kemarin ibu sempat mendengar pembicaraan kalian di ruang tengah hingga mengeluarkan suara yang tidak sedap,”tanya ibu. “benarkah itu nak “ .tetapi kedua putranya diam mendengarkan pembicaraan semua orang disekitarnya itu. Akirnya si Niniak Timbang pun angkat bicara, dan mengambil napas perlahan lahan dan mulai bicara
                        “Baik, baiklah saya disini akan berkata jujur mengapa Niniak Banjo jadi murung begini. “ungkap Niniak Timbang. “ayo apa, apa yang sebenarnya terjadi, biar masalah ini cepat selesai dan Niniak Banjau cepat pulang ke rumah bersatu dengan keluarga lagi “sambar ayah mendesak, “jadi masalah nya adalah kata kata ibu tadi yaitu gara-gara jalo jalato tadi,saya tidak inggin meminjamkan jalo jalato itu saya tidak mau meminjamkan kepada Niniak Banjau karna saya takutnya nanti dia tidak mau lagi meminjamkannya padaku lagi, mungkin memang karna masalah itu membuat Niniak Banjau merenung, tetapi aku tau yah, aku tau aku salah, masalahnya lagi ibu selalu membela dia, sedang kan aku dibiarkan begitu saja “jujur si Niniak Timbang” mana mungkin ibu begitu nak, ibu tidak ada membela siapa siapa, ibu hanya memberi nasihat dan masuakn saja kepada kalian berdua agar kalian tidak bertengkar seperti ini nak, ibu sayang kalian semua, ibu tidak pernah pilih kasih sama kalian nak, “tutur ibu. “tapi kau seharusnya tidak bersikap seperti itu kepada adikmu Timbang, kan paman memberikan jalo jalato itu sebagai hadiah kalian berdua, mengapa kau melarangnya “tanya Datauak Melayu “ iya saya tau kalau saya salah Datuak. Saya ingin memperbaiki kesalahan saya ini, dan saya juga ingin meminta maaf kepada Niniak Banjau atas prilaku saya yang kemarin kemarin saya janji saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi” Niniak Timbang berusaha minta maaf kepada Niniak Banjau , adiknya . akan tetapi tetap saja Niniak Banjau tidak mau, sampai menagis mengila-gila di pulau itu. Para Datuak dan keluarga Niniak Banjau pun heran mengapa Niniak Banjau yang periang kini menjadi seperti orang yang sudah gila
                        “Hei, mengapa si Banjau seperti ini, apa yang telah terjad apda dirinya “tanya salah satu Datuak keheranan. “Entah lah Datuak , tidak biasanya putraku ini seperti ini apa yagn telah terjadi pada dirinya tuhan “i8sah sang ibu
                        Sejak saat itula, muncul pedapat dari Datuak-Datuak suku malayu untuk memberi nama pulai tersebut dengan pulau gilo karna tak biasanya laki laki seperti Niniak Bnajau menangis tergila-gila
            “Wahai masarakat yang ada disini, melihat keadaan Niniak Banjau yang tergila-gila seperti ini bagaimana kalau kita berinama pulau ini dengan pulau gilo “ucapan Datuak Melayu,medengar hal tersebut para masyarakat mengangguk tanda setuju.


 UNTUK VERSI SOFTCOPY (TULISAN + GAMBAR + EDIT + RAPI)
SILAHKAN DATANG KE WARNET GADIS.NET
SIMPANG SMPN 1 SITIUNG, DHARMASRAYA
08777-07-33330 / 0853-6527-3605 
HARGA BERSAHABAT

0 Response to "Asal Usul Pulau Gilo Dharmasraya"

Post a Comment